Bukan Pulau Gag, Aktivitas Dua Perusahaan Ini yang Justru Ancam Pulau Geopark Raja Ampat

photo author
Leihana, TitikTemu.co
- Minggu, 8 Juni 2025 | 19:40 WIB
Foto ilustrasi pulau-pulau yang ada di kawasan Raja Ampat.  (Unsplash/catauggie)
Foto ilustrasi pulau-pulau yang ada di kawasan Raja Ampat. (Unsplash/catauggie)

TITIKTEMU.CO - Isu penambangan nikel di kawasan Raja Ampat tengah menjadi perhatian luas di media sosial.

Banyak pihak menyoroti potensi ancaman terhadap ekosistem dan keindahan alam Raja Ampat, yang dikenal sebagai surga bawah laut dan ikon wisata Indonesia.

Di tengah polemik ini, nama PT GAG Nikel ikut terseret sebagai perusahaan yang beroperasi di Pulau Gag.

Baca Juga: Tragedi Longsor di Tambang Gunung Kuda Cirebon: 10 Korban Jiwa dan Kondisi Terkini

Anggota DPD RI: Bukan PT GAG Nikel yang Mengancam, Tapi Perusahaan Baru

Menanggapi situasi ini, Paul Finsen Mayor, Anggota DPD RI dari Papua Barat Daya, menyampaikan bahwa justru perhatian seharusnya diarahkan ke dua perusahaan lain, yakni:

  • PT Mulia Raymond Perkasa yang beroperasi di Pulau Manyefun dan Batang Pele
  • PT Anugerah Pertiwi Indotama yang beraktivitas di Kepulauan Paam

Kedua perusahaan ini, menurut Paul, mendapatkan Izin Usaha Pertambangan (IUP) baru tanpa melalui kajian publik yang transparan, dan lokasinya berada di kawasan suaka alam laut yang sangat sensitif.

Baca Juga: Fakta Terbaru Longsor Tambang di Cirebon: 14 Orang Meninggal, 8 Masih Dicari

Dekat dengan Piaynemo, Aktivitas Tambang Dinilai Mengancam Pariwisata

Paul menyoroti bahwa lokasi tambang nikel di Batang Pele dan Manyefun sangat dekat dengan ikon wisata Piaynemo, hanya sekitar 29 kilometer.

Hal ini memicu kekhawatiran akan dampak buruk terhadap keberlanjutan pariwisata, yang merupakan tulang punggung ekonomi masyarakat lokal.

“Kunjungan Menteri ESDM ke Pulau Gag menurut saya keliru sasaran. Ancaman nyata justru datang dari aktivitas baru di lokasi-lokasi itu,” tegas Paul.

Pemandu Wisata: Jangan Abaikan Ekosistem Laut yang Rentan

Kekhawatiran serupa juga disampaikan oleh Patrick Nathanael Lintamoni, seorang pemandu wisata lokal. Patrick menyoroti keberadaan Pulau Yevnabi yang hanya berjarak 15 km dari Batang Pele.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Ken Maesa Pamenang

Sumber: Siaran Pers

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X