Lontong Tuyuhan khas Rembang, Wagub Jateng Taj Yasin Maimoen asli Rembang tapi tak pernah bosan menyantapnya

photo author
Agus Hermanto, TitikTemu.co
- Jumat, 18 November 2022 | 09:24 WIB
Wakil Gubernur Jateng Taj Yasin Maimoen alias  Gus Yasin saat menyantap seporsi lontong tuyuhan Rembang. (pic. humas jateng)
Wakil Gubernur Jateng Taj Yasin Maimoen alias Gus Yasin saat menyantap seporsi lontong tuyuhan Rembang. (pic. humas jateng)

Baca Juga: Astaga, 116 mahasiswa IPB diduga jadi korban pinjol. Kerugian ditaksir Rp 2,1 miliar

Lontong digunakan sebagai pengganti nasi dalam penyajiannya. Terdapat potongan ayam kampung sebagai menu utama dan tempe rebus maupun jeroan yang menjadi pelengkap menu. Untuk minumannya, lebih nikmat dengan es kelapa muda.

“Rasanya seperti sayur opor, tapi ada pedasnya dan juga beda sih. Malah bikin nagih terus, rasanya pengen makan terus. Nikmatnya memang banget dan tak ada duanya. Tidak ada kata bosan untuk selalu menikmatinya,” tutur Gus Yasin, sapaan akrab Taj Yasin Maimoen.

Rais, salah seorang pedagang lontong tuyuhan menyebutkan, secara garis besar untuk memasak lontong tuyuhan menyerupai sayur opor.

Baca Juga: Kuliner yang paling diminati di Serang Banten. Silahkan dicoba rabeg, sate bandeng atau nasi sum-sum kerbau!

 Namun terdapat bumbu tambahan seperti bumbu dalam sayur semur.

 

Lontong Tuyuhan kuliner khas Rembang, Jateng.
Lontong Tuyuhan kuliner khas Rembang, Jateng. (pic. humas jateng)

“Ya semua bumbu opor masuk ke sini, tapi ada tambahan seperti ketumbar, merica dan lainnya. Ayamnya pakai ayam kampung, juga ada tempe kedelai biasa yang dimasukkan dalam sayurnya,” katanya.

Baca Juga: Ini 10 Tanda Wanita Bernilai Tinggi, Apakah Anda Masuk Kriteria?

Baca Juga: Kapolres Bogor bongkar rekayasa aksi mati suri Urip Saputra. Ini faktanya

Lontong dari masakan ini pun memiliki bentuk segitiga, beda dari lontong pada umumnya. Menurut Rais, ada filosofi tersendiri dalam bentuk lontong yang digunakan sebagai sajian lontong tuyuhan tersebut.

“Bentuknya segitiga ini merupakan simbol. Segitiga kan ada tiga sudut, jadi kita selalu berpegang pada tiga prinsip. Budaya atau sejarah, agama, dan pendidikan. Di situ kita diajarkan dan itu yang jadi acuan kita selama ini,” terangnya.

Baca Juga: 6 Rekomendasi Tempat Wisata Manado, Didominasi Pulau, Pantai dan Alam Bawah Air

Dalam satu los bangunan yang semuanya diisi puluhan pedagang lontong tuyuhan, selalu saja ramai dikunjungi pembeli. Terlebih saat Bulan Ramadan, lokasi los pedagang lontong tuyuhan akan disesaki para pembeli dari ujung ke ujung.

“Biasanya kalau puasa malah saya gak sempet buka sendiri, dari puluhan pedagang sini malah biasanya sampai kurang-kurang. Padahal menunya sama.” ***

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Agus Hermanto

Sumber: Humas Jateng

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Nastar, Kue Warisan Belanda yang Jadi Ikon Lebaran

Sabtu, 21 Maret 2026 | 07:05 WIB
X