Tiang-tiang joglo yang tinggi menjulang seperti menyapa pengunjung. Begitu masuk pengunjung serasa diajak menikmati makanan dengan atmosfer Jawa nuansa dulu.
Baca Juga: Pingin Bikin Teh Oplos Khas Solo yang Nikmat? Coba Racikan Ini
Dinding kayu, lampu yang, meja kayu dan kursi-kursi rotan mempertegas kesan itu. Nuansa itu seperti membawa pengunjung layaknya makan dan minum di rumah.
W’Kobar seperti ingin menyuguhkan kenyamanan wedangan sembari ngobrol santai dengan keluarga, teman, dan kerabat. Setiap akhir pekan, wedangan ini juga menyajikan live musik.
Menurut salah satu pengelola W’Kobar, sebagai wedangan urban yang penting harus punya konsep beda dengan wedangan lain.
Baca Juga: Menikmati Salad Jawa di Warung Selat Mbak Lies
Tidak bisa hanya dengan mengandalkan menu, tapi juga susana. Pasalnya, prinsip wedangan urban itu biasanya 60 persen menjual suasana, 40 persen makanan.
“Setiap wedangan itu rata-rata yang dijual sama, mulai nasi, sate-satean, teh oplos, tempe bacem dan lainnya. Tapi yang penting adalah bagaimana membuat pengunjung nyaman,” katanya.
Seperti wedangan lain, beragam menu disajikan wedangan W’Kobar. Satu menu andalan wedangan ini sambal tumpang yang disajikan dengan jenang ataupun nasi.
Baca Juga: 12 Kedai Kopi di Baturetno Wonogiri, Tetap Dicari Meski Tersembunyi
Sambal tumpang merupakan olahan berkuah kental dari bahan tempe bosok yang ditumis dengan bumbu dapur, santan, dan diberi penyedap rasa. Rasanya khas.
“Ini yang jadi pembeda. Tumpang itu menu legendaris, kami mencoba mengangkatnya di wedangan ini,” ujarnya.
Di luar itu ada banyak jenis nasi, mulai dari nasi kucing, nasi teri, dan nasi goreng, nasi oseng, nasi sambal goreng yang semuanya dbungkus menggunakan daun pisang.
Baca Juga: Bale Reren, Manjakan Penikmat Kuliner Santap Masakan Khas Sembari Belajar Budaya Jawa
Harganya hanya Rp 5.000, sementara lauknya berkisar Rp 2.000 - Rp 4.000. Untuk menu minuman, W’Kobar menawarkan beragam wedang.