Kisah Kedai Kopi Sederhana di Pemukiman Padat Jogja, Tanpa Akses Mobil, Tanpa WiFi, Didatangi Banyak Turis Asing

photo author
Ken Maesa Pamenang, TitikTemu.co
- Sabtu, 4 April 2026 | 21:12 WIB
Kisah Kedai Kopi Sederhana di Pemukiman Padat Jogja, Tanpa Akses Mobil, Tanpa WiFi, Didatangi Banyak Turis Asing (Instagram@banumelody)
Kisah Kedai Kopi Sederhana di Pemukiman Padat Jogja, Tanpa Akses Mobil, Tanpa WiFi, Didatangi Banyak Turis Asing (Instagram@banumelody)

Baca Juga: Gudeg, Kopi Joss, dan Kopi Klothok yang Tidak Lagi Merakyat, Wisatawan Membuatnya Menjadi Kuliner Mahal

Berawal dari Mimpi dan Kecintaan pada Kampung Halaman

Kedai kopi ini didirikan Fahmi, barista 2014. Dia membuka Co-Fams Coffee pada Desember 2020, di tengah situasi pandemi yang penuh ketidakpastian.

Alih-alih memilih lokasi strategis, Fahmi justru memilih kampung halamannya sendiri di Jogoyudaan. Baginya, tempat ini memiliki nilai emosional yang tidak tergantikan.

Sekaligus, dia juga ingin memperkenalkan Jogoyudaan kepada lebih banyak orang. Meski berada sangat dekat dengan Tugu Jogja, kawasan ini masih jarang dikenal oleh banyak orang.

Baca Juga: Naik KA Batara Kresna Membelah Solo-Wonogiri, Jalur Kereta dengan Pemandangan Ikonik

Viral Berkat Media Sosial dan Wisatawan Mancanegara

Awalnya, kedai ini tidak langsung ramai. Promosi hanya dilakukan sederhana melalui media sosial dan peta digital. Titik balik terjadi ketika seorang wisatawan asal Australia datang dan membuat konten.

Video tersebut viral dan menarik perhatian banyak orang. Dalam waktu singkat, kedai kopi yang sebelumnya sepi mulai dipadati pengunjung dari berbagai daerah.

Tidak hanya wisatawan lokal, pengunjung dari luar kota seperti Surabaya juga rela datang khusus untuk merasakan suasana unik di tempat ini. Bahkan, ada yang sengaja mampir di tengah perjalanan hanya karena penasaran.

Baca Juga: Warung-warung Makan Legendaris di Jogja Langganan Keluarga Sultan 

Sensasi Ngopi yang Berbeda di Tepi Kali Code

Co-Fams Coffee menawarkan pengalaman ngopi yang tidak biasa. Lokasi yang tersembunyi, suasana kampung yang autentik, serta interaksi langsung dengan warga menjadi nilai tambah yang sulit ditemukan di tempat lain.

Menjelang malam, suasana di kedai semakin hangat. Percakapan antar pengunjung mengalir santai. Kehadiran musala di dekat kedai juga membuat suasana tetap terjaga dengan penuh rasa hormat.

Tidak jauh dari kedai, terdapat bantaran Kali Code yang bisa dijadikan tempat bersantai. Di area tersebut, terdapat angkringan milik keluarga Fahmi yang menjadi pelengkap pengalaman kuliner di kawasan ini.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Ken Maesa Pamenang

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Nastar, Kue Warisan Belanda yang Jadi Ikon Lebaran

Sabtu, 21 Maret 2026 | 07:05 WIB
X