TITIKTEMU.CO - Wonogiri selama ini kerap dipandang sebelah mata dibanding kota-kota besar di Jawa Tengah. Tandus, miskin, dan tidak berkembang.
Namun di balik citra sebagai daerah dengan fasilitas terbatas, kabupaten ini justru menyimpan daya tarik tersendiri bagi mereka yang mendambakan gaya hidup slow living.
Kehidupan yang lebih santai, biaya hidup terjangkau, serta suasana yang tidak terlalu padat menjadi alasan mengapa Wonogiri mulai dilirik sebagai tempat tinggal alternatif.
Baca Juga: Lasem Rembang, Destinasi Wisata Penuh Sejarah, Sekadar untuk Singgah atau Menetap?
Kisah Para Perantau
Kisah banyak perantau bisa menjadi gambaran nyata bagaimana Wonogiri bisa menawarkan kualitas hidup yang berbeda.
Banyak perantau meningglkan Wonogiri, dan bekerja di kota-kota besar seperti Jakarta atau lainnya. Banyak yang sukses, meski tak sedikit juga yang hidunya begitu-begitu saja.
Bagi yang sukses: menjadi pegawai dengan gahi yang cukup. Namun, tekanan hidup di ibu kota dan tuntutan pekerjaan membuat hidupnya seperti “habis di jalan”.
Baca Juga: Mengenal Frugal Living: Cara Cerdas Mengatur Keuangan Tanpa Mengorbankan Kenyamanan
Berani Memilih Hidup Sedehana
Keputusan besar pun diambil: kembali ke kampung halaman bersama keluarganya. Bekerja di Solo dengan penghasilan lebih kecil dibanding di Jakarta, tapi masih bisa memenuhi kebutuhan hidup dan menabung.
Tinggal di Wonogiri membuatnya merasakan hidup yang lebih tenang, jauh dari hiruk pikuk kota besar. Waktunya tidak habis di jalan, punya banyak waktu untuk anak dan istri.
Terlebih ketika dia menguasai teknologi dan bahasa Inggris yang lumayan. Melalui internet, dia berpindah pekerjaan berbasis proyek dari perusahaan internasional di bidang teknologi.
Penghasilannya bahkan meningkat signifikan karena dibayar dalam mata uang dolar. Fleksibilitas kerja menjadi nilai tambah, di mana waktu kerja bisa disesuaikan dan tidak lagi terikat jam kantor konvensional.
Artikel Terkait
Salatiga, Kota 'Selow' yang Cocok untuk Slow Living, Ini Alasannya
Slow Living di Temanggung: Hidup Tenang dan Damai, Tak Semua Sempurna
Tak Ada Kehidupan Setelah Isya di Purworejo: Kota yang Mengajarkan Slow Living yang Sebenarnya
Pagi di Wonosobo Selalu Punya Pesonanya Sendiri: Kabut, Roti Bakar, dan Secangkir Kopi
Waroeng Jadoel Temanggung: Menikmati Masakan Lawas, Kenangan, dan Sopan Santun yang Tidak Dibuat-buat
Slow Living di Gunungkidul Memang Menyenangkan, Syaratnya: Lupakan Gaya Necis ala Kota
Slow Living di Jogja: Menikmati Hidup Melambat, Tapi Tidak Murah
Solo: Kota dengan Ritme Hidup Lambat, Tempat Ideal untuk Slow Living?
Desa Wotawati Gunungkidul Viral: Matahari Terbit Jam 8 Pagi, Tenggelam Jam 3 Sore
Healing Bukan Sekadar Liburan: Ini Tren Tempat Healing 2026 yang Diam-Diam Diburu Banyak Orang