TITIKTEMU.CO - Nama Salatiga belakangan semakin sering muncul dalam perbincangan, terutama terkait gaya hidup slow living dan frugal living.
Kota kecil di antara Solo dan Semarang ini bahkan kerap disebut sebagai alternatif baru bagi Yogyakarta yang selama ini identik dengan suasana santai dan biaya hidup terjangkau.
Namun, di balik berbagai pujian tersebut, muncul fenomena yang patut dicermati: romantisasi berlebihan terhadap sebuah kota. Label “kota ideal” kerap membawa ekspektasi tinggi, berbeda dengan realitas.
Baca Juga: Salatiga, Kota 'Selow' yang Cocok untuk Slow Living, Ini Alasannya
Salatiga dan Label Kota Nyaman
Tak bisa dipungkiri, Salatiga memiliki banyak keunggulan yang membuatnya dilirik sebagai kota layak huni. Inilah kota toleran. Berbagai tokoh dan lembaga memberikan penilaian positif terhadap kota ini.
Salah satunya datang dari Sandiaga Uno yang menyebut Salatiga sebagai salah satu kota dengan potensi kuat di sektor ekonomi kreatif, khususnya gastronomi. Konsep pariwisata berkelanjutan berkembang baik di kota ini.
Selain itu, Ikatan Ahli Perencanaan Indonesia melalui survei Most Livable City Index (MLCI) konsisten menempatkan Salatiga sebagai kota dengan tingkat kenyamanan tinggi. Skornya melebihi atas rata-rata nasional.
Faktor seperti fasilitas publik, ruang terbuka hijau, dan akses transportasi yang relatif mudah menjadi alasan utama tingginya tingkat kepuasan masyarakat.
Baca Juga: Daerah Terbaik Slow Living di Jawa Tengah, Solo, Salatiga, Magelang atau Purwokerto?
Kota Toleran yang Diakui Nasional
Salatiga juga dikenal sebagai kota dengan tingkat toleransi tinggi. Laporan SETARA Institute menempatkan kota ini secara konsisten di peringkat atas dalam daftar kota paling toleran di Indonesia.
Menurut Ismail Hasani, toleransi di Salatiga bukan sekadar slogan, melainkan sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat.
Kondisi sosial yang aman dan minim konflik menjadi salah satu fondasi penting yang membuat kota toleran ini terasa nyaman untuk ditinggali.
Artikel Terkait
Slow Living di Temanggung: Hidup Tenang dan Damai, Tak Semua Sempurna
Slow Living di Kedu: Bukan Hanya Melambatkan Langkah, Tapi Juga Menata Ulang Ritme Hidup
Slow Living di Gunungkidul Memang Menyenangkan, Syaratnya: Lupakan Gaya Necis ala Kota
Slow Living di Jogja: Menikmati Hidup Melambat, Tapi Tidak Murah
Solo: Kota dengan Ritme Hidup Lambat, Tempat Ideal untuk Slow Living?
Desa Wotawati Gunungkidul Viral: Matahari Terbit Jam 8 Pagi, Tenggelam Jam 3 Sore