TITIKTEMU.CO - Jalur KA Solo–Wonogiri bukan sekadar sarana transportasi. Pada rel yang membentang sepanjang 37 kilometer, tersimpan sejarah panjang lebih dari satu abad perjalanan.
Kini, jalur kereta api legendaris tersebut masih aktif dilayani oleh KA Batara Kresna, kereta perintis yang menawarkan sensasi berbeda bagi penumpang.
Sejarah mencatat, jalur ini pertama kali dibangun pada 1922 sebagai jalur trem oleh Nederlandsch-Indische Maatschappij.
Baca Juga: Hikayat Semangkuk Mie Ayam Wonogiri, Jejak Kaum Boro dan Resep dari Orang-orang Tionghoa
Sejarah Jalur KA Solo-Wonogiri
Kala itu, trem berukuran kecil dengan kecepatan terbatas menjadi andalan masyarakat untuk mobilitas sekaligus distribusi hasil industri, terutama dari pabrik gula di sekitar Solo.
Seiring waktu, jalur ini berkembang menjadi rute kereta api yang menghubungkan berbagai wilayah, mulai dari pusat kota hingga pedesaan.
Namun, sebagian jalur menuju Baturetno akhirnya ditutup setelah pembangunan Waduk Gajah Mungkur pada 1978. Kini, rute aktif hanya sampai Stasiun Wonogiri di pusat kota.
Baca Juga: Jangan Keliru! Ini Ciri Khas Sego Berkat Wonogiri yang Autentik
Konsep Railbus
Hingga saat ini, hanya KA Batara Kresna yang melayani jalur tersebut. Kereta ini mulai beroperasi sejak 2015 dan sempat berhentikarena pandemi sebelum kembali aktif pada 2021.
Dengan kapasitas sekitar 117 penumpang, kereta ini menjadi andalan masyarakat sekaligus alternatif wisata murah meriah.
Salah satu keunikan utama KA Batara Kresna adalah konsepnya sebagai railbus. Kereta ini tidak melaju secepat kereta jarak jauh lainnya.
Sebaliknya, kecepatan relatif lambat untuk memberi keempatan penumpang bisa menikmati pemandangan secara lebih santai; persawahan, rumah-rumah penduduk, dan pegunungan.
Artikel Terkait
Salatiga, Kota 'Selow' yang Cocok untuk Slow Living, Ini Alasannya
Pagi di Wonosobo Selalu Punya Pesonanya Sendiri: Kabut, Roti Bakar, dan Secangkir Kopi
Slow Living di Gunungkidul Memang Menyenangkan, Syaratnya: Lupakan Gaya Necis ala Kota
Desa Wotawati Gunungkidul Viral: Matahari Terbit Jam 8 Pagi, Tenggelam Jam 3 Sore
Sisi Lain Salatiga di Balik Kenyamanannya, Bakal Gantikan Jogja sebagai Kota Slow Living?
Lasem Rembang, Destinasi Wisata Penuh Sejarah, Sekadar untuk Singgah atau Menetap?