TITIKTEMU.CO - Gaya hidup slow living di Jogja kerap menjadi impian banyak orang karena kerap digambarkan sebagai pelarian sempurna dari hiruk-pikuk kota besar.
Itu benar adanya. Jogja, dengan suasana pedesaan dan keramahtamahan warga, menjadi modal untuk hidup tenang dan damai. Namun, untuk menikmati semua itu tentu ada harga yang harus dibayar.
Sebab, di balik citra damai dan tempo hidup yang lambat, terdapat kenyataan lain: menjalani gaya slow living di Jogja hanya benar-benar mungkin bagi mereka yang berkecukupan.
Baca Juga: Slow Living di Gunungkidul Memang Menyenangkan, Syaratnya: Lupakan Gaya Necis ala Kota
Selebihnya, warga setempat justru harus bergerak semakin cepat, tetap bekerja keras, untuk menyesuaikan diri dengan tekanan ekonomi dan biaya hidup yang terus merangkak naik.
Bagi banyak orang dari luar kota, Jogja seperti paket lengkap sebuah utopia: pagi dimulai dengan udara sejuk, suara ayam berkokok, dan pemandangan Gunung Merapi dari kejauhan.
Kenikmatan dan rasa damai itu masih bisa ditambah dengan secangkir kopi atau teh panas, dan camilan umbi-umbian di teras rumah yang menghadap persawahan.
Gambaran itulah yang kerap memenuhi lini masa media sosial, terutama saat para influencer memamerkan rutinitas santai mereka. Jogja diposisikan sebagai kota yang tenang, penuh ruang untuk bernapas, dan menjadi tempat ideal untuk slow living.
Namun bagi masyarakat setempat, narasi itu sering kali terdengar seperti fantasi yang dipotong dari realitas. Memang benar, Jogja bergerak dengan ritme lebih lambat dibandingkan Jakarta, Surabaya atau Semarang.
Kemacetan masih bisa ditoleransi, fasilitas umum relatif mudah dijangkau, dan kehidupan komunal masih terjaga. Tapi ketika membahas slow living, selalu ada biaya yang harus dibayar. Dan biaya itu tidak murah.
Baca Juga: Rekomendasi 5 Slow Bar Kafe Paling Asyik di Jogja, Menikmati Kopi Terbaik dan Belajar Gratis!
Jogja yang Lambat, Tapi Tidak Murah
Dalam satu dekade terakhir, DIY mengalami pertumbuhan pesat. Pinggiran kota berubah menjadi kawasan semi-metropolitan. Kafe muncul di setiap sudut.
Lihatlah, kompleks perumahan baru berdiri di area yang dulunya ladang, dan gaya hidup urban semakin merayap masuk. Di tengah perubahan, Jogja memang tetap menawarkan suasana yang lebih kalem.
Artikel Terkait
Salatiga, Kota 'Selow' yang Cocok untuk Slow Living, Ini Alasannya
Ini Alasan Purwokerto Cocok Jadi Kota Impian untuk Slow Living dan Menikmati Pensiun
Slow Living itu Tidak Sama dengan Bemalas-malasan
Mimpi Slow Living: Benarkah Hidup di Desa Bakal Selalu Nyaman?
Slow Living: Hidup di Desa itu Indah, Tapi Tidak Selalu Mudah
Slow Living di Temanggung: Hidup Tenang dan Damai, Tak Semua Sempurna
Tak Ada Kehidupan Setelah Isya di Purworejo: Kota yang Mengajarkan Slow Living yang Sebenarnya
Slow Living di Kedu: Bukan Hanya Melambatkan Langkah, Tapi Juga Menata Ulang Ritme Hidup
Puncak Sosok Jogja: Senja, Musik, Jagung Bakar, dan Hidup yang Perlu Melambat