Blunder Patih Gajah Mada di Perang Bubat

photo author
Ganug Nugroho Adi, TitikTemu.co
- Kamis, 19 Agustus 2021 | 16:08 WIB
Ilustrasi Perang Bubat (Wikipedia)
Ilustrasi Perang Bubat (Wikipedia)

Menurut cerita tutur, Hayam Wuruk terpikat pada kecantikan Dyah Pitaloka setelah melihat lukisan wajah sang putri yang digambar oleh seniman Majapahit, Sungging Prabangkara.

Maka, seorang mantri bernama Madhu pun utusan lamaran pun dikirimkan ke Sunda. Jika pinangan diterima, pernikahan akan digelar di Majapahir. Di istananya,  Hayam Wuruk menunggu balasan lamaran dengan harap-harap cemas.

Ilustrasi Perang Bubat
Ilustrasi Perang Bubat (Instagram @menitaaa29)

Blunder Gajah Mada

Raja Pasundan, Linggabuana, sebenarnya keberatan dengan pingan itu. Bukan soal pinangannya, tapi karena tempat pernikahan yang harus digelar di Majapahit. Secara adat adalah tidak lazim calon mempelai wanita datang menyerahkan diri ke pihak mempelai pria.

Penasehat raja, Mangkubumi Hyang Bunisora Suradipati, bahkan khawatir pernikahan itu sebagai jebakan Majapahit untuk menguasai wilayah Sunda. Namun, Linggabuana akhirnya mengalah. Majapahit yang sedang dalam masa kejayaan akan memberi pengaruh baik pada Kerajaan Sunda.

Apalagi Sang Raja juga percaya bahwa Hayam Wuruk masih memiliki darah Sunda karena ayahnya, Rakeyan Jayadarma, adalah orang Sunda dari Kerajaan Galuh. Maka, diterimalah lamaran untuk putrinya itu.

Sang Raja memimpin sendiri rombongan kecilnya menuju Majapahit. Pasukan pengawal raja, Balamati, para menteri, dan para pelayan berangkat menuju ke timur. Permaisuri mendamping putrinya, Dyah Pitaloka, di sepanjang perjalanan.

Rombongan itu tiba di dermaga Bubat, tidak jauh jauh dari Sungai Jetis, masih dalam wilayah ibu kota Majapahit, Trowulan. Mereka kemudian menuju Desa Bubat, dan mendirikan perkemahan di Lapangan Bubat.

Banyak sejarawan yang menyebut bahwa lokasi Lapangan Bubat diperkirakan di sekitar kolam Segaran Majapahit, yang sekarang sudah berubah menjadi pemukiman. Budayawan Trowulan, Cokro Pamungkas, menyebut Bubat merupakan kota bandar di sisi Sungai Brantas tidak jauh dari Tarik. Wilayah Tarik sendiri merupakan lokasi pertama Raden Wijaya mulai membuka hutan untuk mendirikan Kerajaan Majapahit.

“Rombongan Prabu Linggabuana berlabuh di sana, sebelum akhirnya mendirikan perkemahan di Lapangan Bubat,” kata Cikro.

Kabar kedatangan rombongan itu disambut gembira Raja Hayam Wuruk dan para petinggi kerajaan. Selama beberapa hari sebelumnya, Majapahit telah sibuk menyiapkan sambutan besar-besaran.

Raja Hayam Wuruk bersiap menyambut rombongan ke Lapangan Bubat, namun Gajah Mada mencegah dan meminta Hayam Wurk menunggu di istana. Sang Raja menurut.

Gajah Mada beralasan kedatangan Hayam Wuruk ke perkemahan akan merendahkan martabat Majapahit. Sang Patih pun ditugaskan menuju alun alun menyambut rombongan Raja Linggabuana.

Ilustrasi Perang Bubat
Ilustrasi Perang Bubat (Twitter)

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Ganug Nugroho Adi

Tags

Rekomendasi

Terkini

Arti Mimpi Ular Kuning dan Putih Apa?

Selasa, 26 Agustus 2025 | 11:35 WIB
X