Baca Juga: Keris Mpu Gandring, Ken Arok, dan Pertumpahan Darah di Kerajaan Singasari
Ibu Suri itu lebih memilih menjaga perdamaian dan melakukan rekonsiliasi untuk memulihkan luka masa lalu. Akhirnya ia menyerahkan tahta kepada Tribhuwana, anak pertamanya (halaman 105).
“Dia memilih untuk memenangkan keluhuran, bukan mengutamakan ambisi pribadi. Padahal kalau mau dia bisa saja menjadi ratu. Alasan lain, Gayatri merasa dirinya sudah memasuki masa bhiksuka –masa melepaskan masalah duniawi. Pantang bagi seorang bhisuka masih menyimpan ambisi pribadi,” tambah Drake.
Dengan kearifannya sendiri, Gayatri lebih memilih menjadi “sesepuh kerajaan” sambil terus memastikan Majapahit dijalankan oleh orang-orang yang tepat. Gayatri adalah “think thank” di balik kebijakan-kebijakanTribhuana.
Salah staunya ketika menobatkan dua menantunya Kertawardhana dan Wijayarajasa menjadi raja di keraton Tumapel dan Wengker yang merupakan bawahan Majapahit.
Baca Juga: Amangkurat I, Pembantaian demi Pembantaian di Mataram
Kelak, perempuan agung itu membuat terobosan dengan mengangkat Gadjah Mada yang rakyat jelata sebagai Mahapatih menggantikan Mpu Krewes.
Sebuah keputusan yang luar biasa karena masa itu para pembesar kerajaan, apalagi Mahapatih, selalu diambil dari bangsawan yang memiliki trah dengan raja. Gajah Mada adalah perkecualian.
Masa Gemilang Majapahit
Awalnya, naiknya Tribhuwana Tunggadewi ke tahta Majapahit diragukan kalangan kerajaan, juga rakyat Majapahit sendiri. Sebabnya tak lain karena dia seorang perempuan. Namun, Sang Ratu justru membuktikan menjadi pembuka Majapahit menuju masa gemilang.
Buku “Sejarah Raja-raja Jawa: Sejarah Kehidupan Kraton dan Perkembangannya i Jawa” tulisan Purwadi (2007), menyebut bahwa Tribhuwana Tunggadewi berhasil meeletakkan dasar-dasar politik pemerintahan Majapahit (halaman 107).
Selain Gayatri, Patih Gajah Mada juga memiliki peran besar dalam dalam kesuksesan pemerintahan Tribhuwana. Pada era inilah Majapahit melakukan ekspansi besar-besaran ke wilayah Bali (1343). Tahun-tahun berikutnya Majapahit mencaplok beberapa wilayah di Sumatera.
Baca Juga: Dendam Lama dan Tahta Singkat Amangkurat III
Pergolakan demi pergolakan sempat muncul di Majapahit. Beberapa daerah berusaha melepaskan diri, seperti Sadeng dan Keta. Namun, kedua daerah itu berhasil dipukul mundur pasukan Gajah Mada dan Adityawarman.
Gayatri dan Politik Majapahit