Daendels membenahi Kekacauan
Daendels tiba pada 1808 saat kondisi pemerintahan kacau, birokrasi korup, serta wilayah yang lemah karena masalah lingkungan. Tapi, dia dikenal sebagai pemimpin yang disiplin dan tegas.
Daendels bertindak. Dia tidak ragu mengambil langkah drastis: memangkas pejabat korup, membentuk struktur pemerintahan lebih efisien, dan sentralisasi kekuasaan agar setiap kebijakan dijalankan seragam.
Sejarawan Mona Lohanda mencatat Daendels membagi Pulau Jawa menjadi sembilan prefecture -tingkat pembagian wilayah administratif.
Sistem baru ini diciptakan untuk memperkuat pengawasan administratif, termasuk atas pengusaha lokal yang sebelumnya leluasa mengambil kayu hutan tanpa pengendalian.
Dengan cara itu, Daendels ingin membangun Hindia Belanda sebagai negara modern, bukan lagi wilayah dagang yang dieksploitasi sesuka hati seperti di masa VOC.
Baca Juga: Sejarah Keraton Surakarta, Paku Buwana III: Raja yang Berkuasa di Bawah Bayang-bayang Belanda
Larangan Pembalakan Liar yang Mengubah Jawa
Salah satu langkah besar Daendels adalah menerbitkan larangan pembalakan liar. Dia menetapkan hutan merupakan aset negara, sehingga tidak boleh ada satu pun pihak yang menebang tanpa izin.
Untuk mendukung kebijakannya, Daendels membentuk lembaga resmi bernama Jawatan Kehutanan (Diens van het Boschwezen).
Jawatan bertugas memetakan hutan, menentukan wilayah yang boleh ditebang dan ditanami kembali, terutama untuk pohon jati yang pada masa itu menjadi komoditas sangat berharga.
Baca Juga: Misteri Tewasnya Jenderal Mallaby di Jembatan Merah, Siapa Penembaknya?
Sistem rotasi tebang-tanam mulai diterapkan, sebuah langkah maju dalam upaya menjaga keberlanjutan hutan. Daendels bahkan mengeluarkan aturan unik untuk memastikan setiap kayu yang ditebang tercatat dengan baik.
Kayu jati diberi kode wilayah tertentu, seperti kode S1 untuk Surabaya, dan S5 untuk Semarang. Jika ditemukan kayu tanpa kode resmi, kayu otomatis disita dan pelakunya ditangkap. Tidak ada kompromi.
Kebijakan ini langsung memukul mereka yang selama ini bergantung pada penebangan ilegal. Banyak penebang liar dipindahkan ke wilayah lain dan diberi lahan baru untuk digarap.
Artikel Terkait
Eksekusi DN Aidit dan Senyum Soeharto
Java Preanger, Secangkir Kopi dari Jawa yang Mendunia
Melihat Stasiun Solo Kota yang Menyimpan Sejarah Penting Perkeretaapian
Stasiun Solo Jebres, Dahulu Sering Digunakan Keluarga Kerajaan
Menelusuri Berdirinya Organisasi Kepemudaan Di Kota Solo Dari Jong Java Hingga Indonesia Muda
Rekam Jejak Stasiun Purwosari Dari Zaman Belanda
William Shakespeare: Penyair Jenius di 4 Abad Lalu yang Karyanya Tetap Hidup di Panggung Dunia
Perjanjian Giyanti Membelah Kerajaan Mataram Jadi Dua, Kisah Kasunanan Surakarta dan Kasultanan Yogyakarta