Slow Living di Jogja: Menikmati Hidup Melambat, Tapi Tidak Murah

photo author
Ken Maesa Pamenang, TitikTemu.co
- Jumat, 28 November 2025 | 13:30 WIB
Slow Living di Jogja: Menikmati Hidup Melambat, Tapi Tidak Murah. (Instagram @wisatajogja)
Slow Living di Jogja: Menikmati Hidup Melambat, Tapi Tidak Murah. (Instagram @wisatajogja)

Namun, kenyamanan itu hanya terasa bagi mereka yang mampu membayar harganya. Penyewa kos-kosan kelas menengah harus menanggung biaya yang naik saban tahun.

Pencari rumah kontrakan kini harus bersaing dengan ekspatriat, pekerja remote, atau pendatang yang mencari ketenangan sambil membawa daya beli tinggi.

Sementara warga lokal, terutama mereka yang bekerja dengan standar gaji UMR, menghadapi realita hidup bahwa jogja yang pelan ternyata belum tentu membuat hidup mereka ikut lapang.

Baca Juga: Mengenal Kafe Slow Bar yang Lagi Ngetren, Demi Menikmati Ngopi Lebih Intim

Slow Living yang Boros

Ide slow living sering digabungkan dengan citra estetis: brunch di kafe minimalis, belanja bahan makanan segar di supermarket premium, dan sore hari yang santai di ruang tamu yang tertata rapi.

Tapi gaya hidup pelan bukan berarti hidup sederhana. Sebaliknya, gaya hidup ini justru menuntut pengeluaran yang tidak sedikit.

Mari kita hitung. Untuk merasakan ritme hidup yang lambat dan nyaman, seseorang butuh ruang tinggal yang memadai. Bukan kamar kos sempit tanpa ventilasi.

Mereka membutuhkan akses internet cepat, kenyamanan privat, serta lingkungan yang tenang. Nah, di bagian ini saja sudah menguras anggaran.

Belum lagi gaya hidup pendukung slow living: nongkrong di coffee shop estetik, mengunjungi tempat healing, menikmati makan sehat, atau sekadar berbelanja produk-produk berkualitas.

Jogja tentu saja menyediakan banyak pilihan. Namun, hanya sedikit dari pilihan itu yang benar-benar murah.

Bagi mereka yang bergaji standar Jogja, slow living terasa seperti lelucon. Gaji yang tidak bergerak, biaya hidup terus naik, dan tuntutan sosial yang meningkat justru membuat hidup harus dijalani dengan kecepatan ekstra, bukan melambat.

Baca Juga: Sukabumi: Kota yang Tidak Tergesa, Slow Living dengan Bernapas Lega

Ketimpangan yang Tak Terlihat

Fenomena slow living di Jogja pada akhirnya memperlihatkan ketimpangan sosial yang tidak selalu disebutkan. Di satu sisi, para pendatang membeli tanah atau rumah dengan mudah, menciptakan gaya hidup tenang yang terlihat effortless.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Ken Maesa Pamenang

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Lirik Yalal Waton Latin, Arab, Arti, dan Penciptanya

Sabtu, 29 Agustus 2026 | 20:24 WIB
X