Puncak Sosok Jogja: Senja, Musik, Jagung Bakar, dan Hidup yang Perlu Melambat

photo author
Ken Maesa Pamenang, TitikTemu.co
- Sabtu, 22 November 2025 | 21:11 WIB
Puncak Sosok Jogja: Senja, Musik, dan Jagung Bakar, Ingat Hidup Perlu Melambat. (Instagram @suryojdb)
Puncak Sosok Jogja: Senja, Musik, dan Jagung Bakar, Ingat Hidup Perlu Melambat. (Instagram @suryojdb)

TITIKTEMU.CO - Ketika pusat Kota Jogja makin riuh turis, klakson, dan hiruk-pikuk kafe baru, ada satu tempat yang menawarkan ketenangan, pemandangan luas, dan suasana hangat tanpa dibuat-buat.

Tempat itu adalah Puncak Sosok. Inilah bagian dari Jogja yang sederhana, tapi berhasil menjadi menjadi ruang bernapas yang lega bagi siapa pun yang butuh istirahat dari penatnya hidup.

Bagi banyak orang, Jogja adalah kota yang bikin rindu. Tapi di sisi lain, Jogja juga bisa melelahkan. Jalanan makin ramai, waktu santai makin terbatas, dan hidup terasa harus cepat-cepat.

Baca Juga: Slow Living di Gunungkidul Memang Menyenangkan, Syaratnya: Lupakan Gaya Necis ala Kota  

Dalam kondisi seperti itu, mencari tempat yang benar-benar tenang menjadi kebutuhan: healing, istirahat sejenak dari kepenatan, dan damai. 

Tak heran kalau kini banyak warga Jogja dan wisatawan memilih menjauh dari pusat keramaian demi menemukan ketenangan yang dulu mudah ditemui.

Salah satu destinasi yang terus mencuri perhatian adalah Puncak Sosok di Dusun Jambon, Kelurahan Bawuran, Kapanewon Pleret, Bantul.

Berjarak sekitar 45 menit dari pusat kota, tempat ini menawarkan suasana khas perbukitan dengan pemandangan Jogja dari ketinggian 210 mdpl.

Begitu sampai, rasanya seperti keluar dari kebisingan. Hidup tiba-tiba terasa pelan, sejuk, dan menenangkan.

Baca Juga: Rekomendasi 5 Slow Bar Kafe Paling Asyik di Jogja, Menikmati Kopi Terbaik dan Belajar Gratis!

Dari Lahan Kering Menjadi Tempat Healing

Puncak Sosok bukan proyek investor besar atau destinasi wisata yang dibangun demi viral. Tempat Sebaliknya, tempat ini justru tumbuh dari kebutuhan.

Ada satu tujuan mulia dari dibangunnya tempat ini, yaitu bagaimana mengubah tanah tandus menjadi sesuatu yang bermanfaat.

Bertahun-tahun lalu, kawasan ini memang bukan lahan ideal untuk pertanian. Tanah berbatu, air susah, dan hamper tidak ada tanaman yang bisa benar-benar hidup di sana.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Ken Maesa Pamenang

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Lirik Yalal Waton Latin, Arab, Arti, dan Penciptanya

Sabtu, 29 Agustus 2026 | 20:24 WIB
X