Kepala SDN Batursari 5 Demak Berkolaborasi Majukan Sekolah, Raih Sejumlah Penghargaan di Tingkat Nasional

photo author
Teguh Argari Bisono, TitikTemu.co
- Senin, 9 Mei 2022 | 15:39 WIB
Wahyuningsih Rahayu terpilih sebagai guru dan tenaga kependidikan inspiratif  tahun 2001 (pic/ist)
Wahyuningsih Rahayu terpilih sebagai guru dan tenaga kependidikan inspiratif tahun 2001 (pic/ist)

TITIKTEMU.CO DEMAK - Segudang prestasi telah diraih Wahyuningsih Rahayu, S.Pd, M.Pd, Kepala SDN Batursari 5, Desa Batursari, Mranggen, Demak. Tak heran kalau Bu Wahyu, begitu panggilan akrabnya, terpilih sebagai salah seorang guru penggerak dan kepala sekolah penggerak.

Tak mudah untuk menjadi guru penggerak. Sehingga di Kecamatan Mranggen, guru penggerak dan kepala sekolah penggerak hanya ada dua guru saja. Salah-satunya Bu Wahyu.

Guru Penggerak harus lulus seleksi dan mengikuti Program Pendidikan Guru Penggerak. Program ini akan menciptakan guru penggerak yang dapat mengembangkan diri dan guru lain dengan refleksi, berbagi dan kolaborasi secara mandiri.

Baca Juga: Fix! Data Calon Jamaah Haji 2022 Selesai Difinalisasi. Daftar Nama Bisa Cek di Laman Ini

“Maka saya menganggap para guru adalah sebagai teman atau mitra untuk bekerja sama mengembangkan sekolah ini,” ungkap perempuan kelahiran Boyolali, 7 Februari 1971.

Alumnus S2 Unnes tahun 2012 ini, sebelumnya pernah menjadi guru di SDN Batursari 5 sejak 2003, sampai akhirnya memimpin sekolah itu di tahun 2013. Sebagai kepala sekolah, dia tidak mempersulit saat para guru meminta izin tidak mengajar untuk keperluan keluarga atau dinas.

“Yang tidak  disukai para guru, tidak akan saya lakukan,” ungkap nenek dari seorang cucu ini. Dulu sebagai guru, dia memang merasa pernah dipersulit saat akan mengikuti diklat.

Baca Juga: Manchester City 5-0 Newcastle: Aroma Juara Liga Premier Tercium oleh Pasukan Pep Guardiola

“Baru setelah selesai mengajar, saya bisa mengikuti diklat, meski sudah terlambat,” kenangnya. Dan menurutnya, kepala sekolah jangan menunjukkan wajah tidak ceria, saat para guru meminta izin.

 Seorang guru penggerak juga harus memiliki kematangan moral, emosi dan spiritual untuk berperilaku sesuai kode etik. Mereka juga harus merencanakan, menjalankan, merefleksikan dan mengevaluasi pembelajaran yang berpusat pada murid dengan melibatkan orang tua

Perlu berkolaborasi dengan orang tua dan komunitas untuk mengembangkan sekolah dan menumbuhkan kepemimpinan murid. Maka peran komite sekolah menjadi penting di mata Bu Wahyu. Digandenglah komite sekolah untuk memperbaiki prasarana sekolah.

Baca Juga: Prediksi Verona Vs AC Milan, dan Hasil Pertandingan Liga Serie A Italia Pekan ini

“Dana dari DAK, sebenarnya hanya untuk tiga lokal saja, namun kami bekerjasama dengan komite sekolah, sehingga berhasil dibangun tiga lokal lagi di lantai duanya,” ungkap guru yang suaminya  mengelola  kafe di Pucang Gading ini.

Namun pada dua tahun terakhir, Bu Wahyu tidak tega untuk menarik donasi dari para wali murid, karena adanya pandemi Covid 19. “Untuk seragam, kami juga membolehkan wali murid untuk beli di luar sekolah. Namun kalau hanya buat satu seragam harganya mahal, mereka lalu ikut membeli seragam dari sekolah,” papar guru dan tenaga kependidikan inspiratif  tahun 2001 ini.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Teguh Argari Bisono

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X