Hukum Tradisi Ruwahan Jelang Bulan Ramadhan, Ini Kata Buya Yahya

photo author
Ipiek Riyanto, TitikTemu.co
- Jumat, 25 Maret 2022 | 09:49 WIB
Buya Yahya, pengasuh Pondok Pesantren Al-Bahjah Cirebon (Tangkapan Layar YouTube)
Buya Yahya, pengasuh Pondok Pesantren Al-Bahjah Cirebon (Tangkapan Layar YouTube)

TITIKTEMU.CORuwahan merupakan tradisi untuk untuk mendoakan arwah orang tua, leluhur atau kerabat yang telah meninggal, khususnya yang dianggap berjasa dan ditokohkan masyarakat sekitar.

Masyarakat Jawa, khususnya Jawa Tengah tradisi ruwahan ini dilakukan pada bulan Ruwah atau Syaban, diadakan dalam rangka menyambut datangnya bulan suci Ramadhan.

Ruwahan merupakan perpaduan antara kepercayaan adat setempat dan juga Islam, tradisi tersebut banyak digelar di daerah pulau Jawa.

Baca Juga: Ruwahan dan Nyadran, Tradisi Sakral Masyarakat Jawa Jelang Ramadhan

Lalu bagaimana hukumnya melaksanakan tradisi ruwahan menurut Islam?

“Tradisi ruwahan merupakan suatu tradisi yang sangat bagus, asal masih dalam syariat Islam.” kata Buya Yahya dalam tausiyah seperti dilansir TITIKTEMU.CO dari kanal YouTube AL Bahjah TV

Buya Yahya menjelaskan mengenai Ruwahan yang berasal dari kata ruh atau arwah pandangan Islam.

Baca Juga: Penantian 40 Tahun, Warga Garut Kini Kembali Bisa Naik Kereta ke Bandung & Jakarta

Menurut pengasuh Pondok Pesantren Al-Bahjah Cirebon ini, yang perlu dijelaskan lebih dulu adalah keyakinan tentang ruh.

“Bila yang dimaksud ruh atau arwah adalah orang-orang ahli ibadah, orang-orang beriman yang sudah mendahului kita, kemudian kita ingin bersama-sama mendoakan mereka masih diperbolehkan dalam agama Islam, asal sesuai dengan syariat,” jelasnya.

Tradisi ruwahan yang ada di masyarakat membuat makanan menjelang ramadhan, sebenarnya mengandung makna yang besar dan agung, karena dalam tradisi itu kita bersedekah membagi-bagikan makanan, dan berdoa bersama.

Baca Juga: SBMPTN : Penting Nih Untuk Calon Mahasiswa Baru, Simpan Permanen Akun LTMPT Diperpanjang sampai 12 April 2022

“Jadi tradisi menjelang Ramadhan yang biasa dilakukan, maknanya untuk yang hidup dulu, bukan untuk arwah, yaitu dapat menjalin silaturahmi, di sana saling tukar-menukar makanan,” kata Buya Yahya.

“Suasananya indah, jangan dihilangkan, itu merupakan keakraban kita dalam menyambut datangnya bulan suci Ramadhan, dan ini sah-sah saja,” lanjut Buya Yahya.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Indria Purnama Hadi

Sumber: YouTube Al-Bahjah TV

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X