Bagi anak, itu bisa terasa memalukan dan menyakitkan.
Selain soal rasa malu, ada juga isu keamanan. Foto anak dapat disalahgunakan, identitas mudah dilacak, dan informasi pribadi bisa tersebar tanpa kontrol.
Dunia digital tidak selalu aman seperti yang terlihat.
Karena itu, banyak orang tua modern mulai mengubah kebiasaan.
Mereka tetap mendokumentasikan momen keluarga, tetapi menyimpannya secara privat. Ada yang memilih grup keluarga tertutup.
Ada yang mengunggah tanpa menampilkan wajah. Ada juga yang benar-benar berhenti posting anak.
Baca Juga: Polisi Periksa Sopir Taksi dan Masinis Usai Kecelakaan KRL–KA Argo Bromo Anggrek di Bekasi Timur
Ini bukan berarti semua unggahan tentang anak salah. Masalah utamanya adalah niat dan batasan. Apakah posting itu untuk kenangan, atau demi validasi sosial?
Apakah anak akan nyaman jika melihatnya lima tahun lagi? Pertanyaan sederhana ini penting sebelum menekan tombol upload.
Parenting tanpa panggung juga memberi pesan sehat.
Bahwa menjadi orang tua tidak harus selalu dipamerkan. Tidak semua momen perlu penonton.
Tidak semua kebahagiaan perlu likes.
Anak juga berhak tumbuh tanpa tekanan citra digital yang dibangun orang tuanya.
Mereka berhak dikenal sebagai diri sendiri nanti, bukan sebagai “anak yang viral sejak kecil”.
Bagi orang tua aktif media sosial, perubahan ini bisa dimulai perlahan. Kurangi unggahan detail pribadi. Hindari momen memalukan anak.