pendidikan

Dari Tugas Akhir ke Panggung Dunia: Kisah Inspiratif Ibnu Hafiz, Alumnus ITB yang Juara 1 Lomba Paper Energi Asia Pasifik 2025

Jumat, 31 Oktober 2025 | 08:45 WIB
Juara 1 pada SPE Asia Pacific Student Paper Contest 2025, bagian dari konferensi Asia Pacific Oil and Gas Conference and Exhibition (APOGCE) (itb.ac.id)

TITIKTEMU.CO - Ibnu Hafiz Satria, lulusan Teknik Perminyakan ITB angkatan 2021, sukses menorehkan prestasi membanggakan di ajang internasional.

Ia meraih Juara 1 pada SPE Asia Pacific Student Paper Contest 2025, bagian dari konferensi Asia Pacific Oil and Gas Conference and Exhibition (APOGCE) yang digelar di Jakarta pada 14–16 Oktober 2025.

Kompetisi bergengsi ini mempertemukan mahasiswa dari seluruh kawasan Asia Pasifik untuk menampilkan ide dan riset inovatif di bidang energi.

Hafiz tampil memukau lewat penelitian berjudul “Integrated Approach for Rapid Reservoir Characterization Using Advanced Pickett Plot: A Case Study in P Formation, West Java.”

Baca Juga: Fakta Unik Film Abadi Nan Jaya: Saat Zombie Bertemu Budaya Nusantara di Netflix

Riset Sederhana, Dampak Besar untuk Industri Energi

Penelitian Hafiz bermula dari keresahan terhadap cara konvensional dalam karakterisasi reservoir yang kerap dilakukan secara terpisah antara petrofisikawan, geolog, dan reservoir engineer.

Ia kemudian merancang pendekatan baru yang mengintegrasikan berbagai disiplin ilmu menjadi satu sistem cepat dan efisien.

Metode ini memanfaatkan data well log untuk memprediksi parameter petrofisika ketika core data tidak tersedia.

Tak berhenti di situ, Hafiz juga membangun dashboard interaktif berbasis Python agar hasil analisis mudah dipahami dan diperbarui lintas proyek.

“Pendekatan ini memungkinkan perusahaan untuk menilai performa reservoir dengan cepat dan akurat,” ujarnya.

Dari Ide Skripsi hingga Ajang Bergengsi
Yang menarik, riset ini bukan hasil proyek besar industri, melainkan berawal dari tugas akhir Hafiz saat masih kuliah di ITB.

Ia bercerita, topik ini muncul setelah diskusi dengan dosen pembimbingnya, Dr. Dedy Irawan, yang saat itu menjabat Ketua Program Studi Teknik Perminyakan.

“Awalnya saya bingung mau menulis apa. Tapi setelah Dr. Dedy memberi arah, saya menyelesaikan semuanya hanya dalam dua bulan—satu setengah bulan analisis data, sisanya menulis,” kenangnya.

Halaman:

Tags

Terkini