TITIKTEMU.CO - Alih-alih menjadi simbol kemajuan, proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung (KCJB) atau Whoosh justru kembali disorot karena dugaan adanya permainan angka di balik meja.
Anthony Budiawan, Managing Director Political Economy and Policy Studies (PEPS), menyebut bahwa perbedaan tawaran antara Jepang dan China menjadi pintu masuk untuk menelusuri “sesuatu yang janggal”.
Menurutnya, Jepang sempat menawar dengan nilai 6,2 miliar dolar AS, sedangkan China menawarkan 5,5 miliar dolar AS — yang kemudian “tiba-tiba” naik menjadi 6,07 miliar dolar AS.
Dan itu belum berhenti di sana. Setelah tambahan biaya cost overrun sebesar 1,2 miliar dolar AS, totalnya membengkak menjadi 7,27 miliar dolar AS.
Selisih setengah miliar dolar itu bukan sekadar angka di atas kertas, tapi potensi kerugian besar bagi negara.
Baca Juga: Apa yang Sebenarnya Dimaksud Luhut Saat Sebut Whoosh Proyek Busuk?
Bunga Kecil vs Bunga Ganda Dua Puluh Kali
Perbandingan berikutnya datang dari sisi bunga pinjaman.
Jepang menawarkan bunga super ringan, 0,1% per tahun, sementara China datang dengan 2% per tahun — dua puluh kali lipat lebih besar.
Anthony menjelaskan, karena Indonesia harus meminjam 75% dari nilai proyek, selisih bunga itu berdampak sangat besar terhadap beban jangka panjang.
Ia menghitung, dari total proyek yang dibiayai pinjaman, biaya tambahan akibat bunga dan durasi pinjaman bisa mencapai 4,5 miliar dolar AS, atau sekitar Rp75 triliun.
“Ini bukan sekadar proyek infrastruktur, tapi utang yang diwariskan lintas generasi,” ujarnya tegas.
Dugaan Pemufakatan Jahat dan Mark Up
Artikel Terkait
Harga Emas Turun, Niat Beli Ikut Luntur: Antara Logam Mulia dan Logika Hati-Hati
Quarter Life Crisis dan Filosofi Hidup Santai: Belajar Stoik Tanpa Jadi Kaku
Saksi Kasus Kematian Prada Lucky, Prada Richard Ungkap Trauma dan Permintaan Dipindahkan dari Satuan
Kelebihan Uang Lelang di Pegadaian: Cara Klaim dan Syarat Pengambilan Terbaru 2025
Dari Singkong Jadi Energi: Langkah Serius Indonesia Menuju Kemandirian Bioetanol
Whoosh, Utang, dan Bayangan KPK: Ketika Proyek Ambisi Jadi Ujian Transparansi
10 Barang Elektronik yang Bisa Digadaikan di Pegadaian Swasta
Jeritan dari Panggung Monas: Ketika Guru Madrasah Menuntut Keadilan yang Tak Kunjung Datang
Apa yang Sebenarnya Dimaksud Luhut Saat Sebut Whoosh Proyek Busuk?
695 Siswa Gunungkidul Keracunan Program Makan Bergizi Gratis: Ketika Niat Baik Tak Selalu Berujung Manis