Momen penentu datang saat Samuel berusia 6 tahun dan duduk di kelas 1 SD. Ia memberanikan diri mengikuti Singapore Math Challenge 2024 yang sebenarnya diperuntukkan bagi peserta minimal kelas 2 SD.
Meski hanya latihan tiga kali, Samuel berhasil membawa pulang medali perak.
Dari sinilah orangtuanya semakin yakin untuk mendukung bakatnya secara serius.
Baca Juga: Kisah Tiga Bintang dari Gowa: Siswa MAN IC Tembus Semi Final OSN 2025
Metode Belajar Kreatif ala Keluarga Samuel
Ayah Samuel, yang pernah menjadi Academic Director dan Game Designer, menciptakan metode belajar interaktif berbasis logika, problem solving, dan gamifikasi agar proses belajar terasa menyenangkan.
Pendekatan ini membuat Samuel tidak bosan meski belajar materi tingkat tinggi.
Bagi keluarga Samuel, prestasi ini bukan hanya tentang peringkat dan penghargaan.
Ini adalah bukti nyata bahwa pendekatan belajar kreatif di rumah, penuh dukungan orangtua, mampu menumbuhkan prestasi bertaraf internasional.
Mereka juga mendukung Samuel menjelajah minat lain seperti wushu, sains, musik, dan bahasa Mandarin agar tumbuh seimbang.
Baca Juga: Kisah Inspiratif Rudy Setyopurnomo: Wisudawan Tertua ITB, Raih Gelar Doktor di Usia 73 Tahun
Pesan Samuel untuk Anak Indonesia
Bangga menjadi wakil Indonesia di kancah internasional, Samuel berpesan kepada teman-teman sebayanya agar tak takut mencoba ikut lomba.
“Belajar itu bisa menyenangkan kalau kita tekun dan tidak cepat menyerah,” katanya.
Samuel percaya bahwa dengan semangat dan latihan, anak-anak Indonesia juga bisa berprestasi di tingkat dunia.