Generasi yang Dibesarkan Buat “Kuat”, Sekarang Membesarkan Anak Buat “Merasa”

photo author
Leihana, TitikTemu.co
- Rabu, 26 Agustus 2026 | 11:20 WIB

Kalimatnya sederhana, tetapi pesannya besar: perasaan anak diakui.

Pergeseran ini juga berkaitan dengan semakin mudahnya orang tua mengakses informasi pengasuhan. Media sosial bahkan ikut menjadi ruang belajar baru. Sebuah penelitian terhadap orang tua milenial menemukan bahwa parent influencer dapat berperan sebagai sumber informasi, panutan, hingga validator dalam menentukan pilihan pola asuh.

Baca Juga: Pajak Kendaraan 2026 Makin Tegas: Telat 2 Tahun, STNK Bisa Dihapus Permanen!

Parenting Modern Bukan Berarti Anak Bebas Tanpa Batas

Ada kekhawatiran bahwa pola asuh yang lebih lembut akan membuat anak kehilangan disiplin. Padahal, parenting modern tidak harus berarti membiarkan semua keinginan anak.

Justru tantangannya adalah menemukan titik tengah: anak boleh menyampaikan pendapat, tetapi tetap memahami batas; anak boleh marah, tetapi tidak boleh menyakiti orang lain; anak boleh memilih, tetapi harus belajar bertanggung jawab atas pilihannya.

Penelitian terbaru tentang orang tua milenial dan Gen Z di Indonesia juga menunjukkan variasi pola asuh, mulai dari otoritatif hingga lebih fleksibel dan permisif. Perbedaan tersebut dipengaruhi pengalaman hidup, lingkungan sosial, serta perkembangan teknologi.

Baca Juga: Cara Cek Desil Online DTSEN 2026 Pakai NIK, Tak Perlu Login! Ini Arti Desil 1–10

Yang Berubah Bukan Cintanya, tetapi Cara Menunjukkannya

Pada akhirnya, generasi terdahulu dan generasi sekarang mungkin memiliki tujuan yang sama: ingin anaknya tumbuh baik dan mampu menghadapi kehidupan.

Bedanya, definisi “kuat” mulai bergeser.

Dulu, kuat berarti mampu menahan tangis dan menghadapi semuanya sendiri. Sekarang, kuat juga berarti berani mengatakan sedang tidak baik-baik saja, mampu meminta bantuan, memahami emosi, dan tetap bangkit setelah gagal.

Mungkin inilah wajah baru parenting lintas generasi: bukan membuang semua nilai lama, melainkan memilih mana yang masih relevan dan memperbaikinya dengan pemahaman baru.

Karena anak tidak hanya perlu diajari bagaimana bertahan hidup. Mereka juga perlu merasa bahwa rumah adalah tempat aman untuk menjadi dirinya sendiri.*** 

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Leihana

Sumber: Berbagai Sumber

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X