TITIKTEMU.CO-Belakangan ini, istilah inner child semakin sering muncul dalam diskusi seputar kesehatan mental dan parenting. Namun, banyak orang tua masih menganggap konsep ini sekadar tren psikologi populer. Padahal, memahami apa itu inner child bisa membantu menjelaskan mengapa kita terkadang bereaksi berlebihan saat menghadapi anak, bahkan ketika sebenarnya masalahnya terlihat sepele.
Jika Anda pernah marah besar karena anak menumpahkan minuman, merasa sangat tersinggung ketika anak membantah, atau kesulitan memberikan kasih sayang secara terbuka, bisa jadi bukan hanya anak yang sedang berbicara dalam situasi itu. Ada bagian dari diri Anda yang lebih tua dari sekadar emosi saat ini: inner child yang belum sepenuhnya pulih.
Baca Juga: Indonesia Pangkas Daftar Bebas Visa dari 169 Jadi 16 Negara, Apa yang Sebenarnya Terjadi?
Apa Itu Inner Child?
Secara sederhana, inner child adalah bagian psikologis dalam diri yang menyimpan pengalaman, emosi, kebutuhan, dan luka dari masa kecil. Konsep ini banyak digunakan dalam psikoterapi modern untuk membantu seseorang memahami pola pikir dan perilaku yang terbentuk sejak usia dini.
Pengalaman masa kecil, baik yang menyenangkan maupun menyakitkan, tidak hilang begitu saja saat seseorang menjadi dewasa. Otak menyimpan pengalaman tersebut dan dapat memengaruhi cara seseorang merespons hubungan, konflik, serta tantangan dalam kehidupan sehari-hari.
Menurut penelitian dalam bidang psikologi perkembangan, pengalaman emosional masa kecil memiliki pengaruh besar terhadap kemampuan regulasi emosi dan pola pengasuhan ketika seseorang menjadi orang tua.
ParenBaca Juga: Grup WhatsApp Parenting: Sumber Dukungan atau Sumber Stres Baru?
Bagaimana Inner Child Mempengaruhi Parenting?
Terlalu Mudah Marah pada Anak
Pernah merasa reaksi Anda terhadap kesalahan anak jauh lebih besar daripada masalah yang sebenarnya?
Misalnya, anak lupa membereskan mainan lalu Anda langsung meledak. Sering kali kemarahan tersebut bukan hanya soal mainan yang berantakan, melainkan akumulasi emosi lama yang belum terselesaikan.
Jika dulu Anda dibesarkan dengan kritik keras atau hukuman berlebihan, otak bisa menganggap situasi serupa sebagai ancaman sehingga memicu respons emosional yang lebih kuat.
Baca Juga: Stop Tanya Dapat Nilai Berapa? — Ini Pertanyaan yang Lebih Penting untuk Anak
Sulit Memberikan Validasi Emosi
Banyak orang tua tumbuh dengan kalimat seperti:
- "Jangan cengeng."
- "Sudah, nggak usah sedih."
- "Kamu harus kuat."
Akibatnya, saat anak menangis atau kecewa, mereka secara otomatis mengulang pola yang sama karena itulah yang dianggap normal sejak kecil.
Padahal, riset menunjukkan bahwa validasi emosi membantu anak mengembangkan kecerdasan emosional dan kemampuan mengelola stres yang lebih baik.
Artikel Terkait
Grup WhatsApp Parenting: Sumber Dukungan atau Sumber Stres Baru?
7 Kalimat yang Terdengar Biasa Tapi Merusak Kepercayaan Diri Anak Seumur Hidup, Orang Tua Wajib Waspada
Stop Tanya "Dapat Nilai Berapa?" — Ini Pertanyaan yang Lebih Penting untuk Anak
Kota dengan Biaya Hidup Paling Rendah tapi Fasilitas Tetap Lengkap, Cocok untuk Remote Worker
Kota-Kota Ini Punya Udara Paling Bersih di Indonesia — Cek Datanya
Pertamina Pride Masih Terjebak di Hormuz, Ada Apa di Balik Upaya Pemulangannya yang Tak Kunjung Tuntas?
Dituduh Curi Raket Padel, Karyawan Ini Alami 2 Hari Mencekam dan Dipaksa Bayar Rp50 Juta