Rencana Penghapusan Prodi Dinilai Berbahaya: Kampus Bisa Berubah Jadi “Pabrik Tenaga Kerja” Industri

photo author
Leihana, TitikTemu.co
- Rabu, 29 April 2026 | 20:15 WIB
Ilustrasi Rencana penghapusan prodi memicu kritik (Pinterest @facherita)
Ilustrasi Rencana penghapusan prodi memicu kritik (Pinterest @facherita)

Selain itu, kritik juga muncul karena kebijakan ini dinilai salah mendiagnosis masalah. Pemerintah seolah menganggap ketidaksesuaian antara jurusan kuliah dan pekerjaan sebagai akibat dari terlalu banyak prodi yang tidak relevan.

Baca Juga: 8 Jam Menegangkan di Stasiun Bekasi Timur: Lokomotif Penabrak KRL Akhirnya Berhasil Dipisahkan

Faktanya, persoalan di lapangan jauh lebih kompleks. Banyak lulusan bekerja di bidang berbeda dari jurusannya bukan karena jurusan tersebut tidak berguna, melainkan karena kesempatan kerja yang tersedia terbatas. Artinya, masalah utama bukan pada jumlah lulusan, melainkan pada kurangnya lapangan kerja.

Menghapus prodi tidak otomatis menciptakan pekerjaan baru. Sebaliknya, langkah tersebut justru dapat mempersempit pilihan intelektual mahasiswa serta membatasi kebebasan akademik di kampus.

Alih-alih menutup program studi, beberapa solusi dinilai lebih konstruktif. Pemerintah dapat mendorong pertumbuhan sektor ekonomi baru seperti industri kreatif, riset, teknologi lokal, serta kebudayaan. Selain itu, kampus juga dapat diperkuat sebagai pusat inovasi dan kewirausahaan sehingga lulusan tidak hanya menjadi pencari kerja, tetapi juga pencipta lapangan kerja.

Pendekatan lain adalah mendorong kolaborasi lintas disiplin ilmu. Mahasiswa sastra, misalnya, dapat mempelajari keterampilan digital. Mahasiswa filsafat bisa berkontribusi dalam diskusi etika teknologi. Dengan cara ini, relevansi ilmu dapat dibangun melalui adaptasi, bukan penghapusan.

Pada akhirnya, perdebatan tentang penghapusan prodi bukan sekadar soal jurusan mana yang dianggap penting atau tidak. Isu ini menyentuh pertanyaan yang jauh lebih mendasar: untuk apa pendidikan tinggi diselenggarakan?

Jika pendidikan hanya bertujuan menghasilkan tenaga kerja bagi industri, maka makna pendidikan menjadi sangat sempit. Namun jika pendidikan dipahami sebagai proses memanusiakan manusia, membangun peradaban, dan mempersiapkan masa depan yang belum sepenuhnya bisa diprediksi, maka keberagaman ilmu justru menjadi kekuatan yang harus dijaga.

Karena itu, banyak pihak berharap kebijakan pendidikan nasional tetap mempertahankan ruang bagi berbagai disiplin ilmu. Sebab kemajuan bangsa tidak hanya ditentukan oleh kemampuan bekerja, tetapi juga oleh kemampuan berpikir, mencipta, dan memberi makna bagi dunia.***

 

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Redaksi TITIKTEMU

Sumber: Siaran Pers

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X