Hingga akhirnya di Semester 11, ia lulus dengan nilai B+ dan dengan judul skripsi ‘Teknik Penerjemahan Nomina Majemuk Bahasa Indonesia pada Artikel Berita Daring Antara News.’ “Saya percaya pentingnya peran dosen dalam proses ini. Diskusi, kritikan, masukan, dan deadline dari dosen pembimbing, itulah bensin yang paling lambat habisnya,” kata Fendi yang lulus dengan IPK 3,59 ini.
Kini, setelah menyelesaikan pendidikan di UGM, Fendi merasa bahwa perjalanan panjang ini memberinya banyak pelajaran. Ia berpesan kepada mahasiswa lain yang masih berjuang menyelesaikan kuliahnya untuk tidak takut memulai menyelesaikan tugas akhir penulisan skripsi.
“Jangan lupa bangun komunikasi dengan teman yang sudah selesai, dengan dosen pembimbing, dan jangan takut untuk salah. Karena selalu ada ruang untuk memperbaiki, dan pada akhirnya semua ketakutan itu hanya ada di kepala,” pungkasnya.
Artikel Terkait
Dukungan Kampus untuk Industri Kreatif , UGM Shop Resmi Dibuka
Dari Olimpiade Matematika ke Wisuda dengan IPK Sempurna: Kisah Inspiratif Orlando Ferrari di UGM
Giliran Ganjar Pranowo Isi Ramadan Public Lecture (RPL) di Masjid Kampus UGM
Walau Aktif Berorganisasi , Lintang Berhasil Lulus Sarjana Tercepat di UGM
Serunya Mahasiswa Asing Belajar Seni Batik dan Rajut di Yogyakarta Bareng UGM