opini

Afganistan, Neo Taliban, dan Indonesia

Sabtu, 21 Agustus 2021 | 18:05 WIB
Afghanistan (pic. dreamlines.com)

Dulu ketika berkuasa, Taliban melarang musik, televisi, radio, games, bentuk-bentuk hiburan lain. Mereka melarang wanita bekerja di luar rumah, melarang anak-anak perempuan bersekolah dan menutup sekolah, melarang kaum wanita keluar rumah kecuali ditemani oleh suami, ayah, saudara laki-laki, atau anak laki-laki. Di depan umum, wanita harus menutup seluruh tubuhnya  dari kepala hingga kaki. Ini pengaruh Wahabisme, bukan adat Afganistan (Barfield, Thomas, 2008).

Para lelaki harus mengenakan turban, berjanggut panjang, rambut pendek, dan mengenakan pakaian tradisional shalwar kameez. Bila tak menaati dihukum. Meski demikian, Taliban mengklaim dapat memulihkan perdamaian dan keamanan di Afganistan, setelah pendudukan Uni Soviet dan perang saudara,  melalui penerapan hukum sharia yang ketat.

Tentara Amerika Serikat di Afghanistan (Pic. blackcommunitynews.com/)

Baca Juga: Kisah Inspiratif Peserta American Got Talent (AGT) Yang Hanya Memiliki Kesempatan Hidup 2 Persen

“Neo-Taliban”

Taliban—bahasa Pashto, yang berarti murid atau siswa—muncul tahun 1980-an dalam bentuk front gerilyawan Taliban. Mereka bergabung dengan partai mujahidin, Harakat-i Enqelab-i Islami (Gerakan Revolusi Islam) melawan pasukan pendudukan Uni Soviet (1979-1989). Pada tahun 1992 terlibat dalam perang saudara (Antonio Giustozzi, 2011). 

Dengan menggunakan nama Taliban (jamak dari talib) mereka ingin mengambil jarak dari politik Mujahidin dan mengisyaratkan bahwa mereka adalah gerakan untuk membersihkan masyarakat, dan bukannya partai yang hanya mencari kekuasaan. Maka, tujuan didirikannya Taliban adalah untuk memulihkan perdamaian,  menegakkan hukum Sharia, dan mempertahankan karakter Islam Afganistan (Andrew R Smith, 2011).

Tetapi, kenyataannya pada bulan November 1994, mereka menjadi gerakan fundamentalis dan muncul sebagai kekuatan politik dan militer. Mereka tidak lagi menggunakan taktik gerilya, melainkan menjadi pasukan semi-regular untuk melakukan pertempuran konvensional.

Gerakan ini beranggotakan para siswa, pemuda pedesaan etnis Pashtun (di Afganistan Selatan dan Barat), berpendidikan rendah, miskin, yang sebagian besar direkrut dari kamp-kamp pengungsi dan sekolah agama, madrasah di Pakistan (Maryam Jami, 2020). Kelahiran kelompok ini mendapat dukungan dari Pakistan, yang berusaha mengamankan rute perdagangan ke Asia Tengah.

Setelah merebut Kabul (1996) mereka berkuasa hingga disingkirkan AS pada tahun 2001. Meski kekuasaannya diruntuhkan AS, lewat “Operation Enduring Freedom”, namun mereka tidak mati, hanya kehilangan kekuasaan. Mereka yang sebagian besar berasal dari suku Pashtun, dengan mudah menyelamatkan diri, karena mendiami dua wilayah sekaligus: Afganistan dan wilayah barat-laut Pakistan.

Maka, ketika tersingkir dari Afganistan, kelompok militan garis keras Taliban masuk ke kawasan Pengunungan Hindu Kush dan wilayah suku-suku di  North Western Frontier Province (NWFP) Pakistan; sementara yang moderat bergabung dengan masyarakat hanya dengan memotong janggut dan tidak lagi berjubah panjang (Shehzad H. Qazi, 2011).

Tetapi, pelan-pelan mereka berkumpul kembali dan mengkonsilidasikan kekuatan di wilayah perbatasan Pakistan. Mereka benar-benar menjadi “musuh dalam selimut.” 

Gerakan Taliban yang dimulai di Pakistan pada tahun 2002 inilah, yang menjelma menjadi “neo-Taliban.” Mereka banyak berasal dari kelompok dan suku lokal Pakistan dari Federally Administered Tribal Areas  (FATA). Dengan pengecualian beberapa pemimpin kunci, sebagian besar “Taliban lama” awalnya tidak bergabung dengan gerakan ini. Namun, kemudian bergabung kembali setelah usaha mereka untuk bergabung dengan pemerintah Karzai tidak dipedulikan.

Yang membedakan dengan “Taliban lama” adalah kelompok baru ini, berasal dari unsur yang beragam, tidak hanya “sisa-sisa laskar Taliban.”  Mereka merekrut sekutu secara nasional. Dengan demikian, mereka menerima siapa saja yang memiliki pandangan yang sama terhadap pasukan pendudukan, pemerintah Kabul, dan mematuhi aturan yang telah ditetapkan, tanpa memandang etnis dan suku, tidak harus dari etnis Pashtun.

Karena itu, anggota “neo-Taliban” ini berasal dari grup-grup lokal, partai-partai politik, grup-grup jihad, komponen-komponen suku berbeda-beda.  Maka Thomas Ruttig (2010) menyebut “secara organisasi, Taliban adalah jaringan dari jaringan.” Dalam rumusan lain, dapat dikatakan, “neo-Taliban” tidak lain adalah gerakan monolitik dan bersatu. Mereka bukanlah kelompok yang bersatu dengan satu visi untuk Afghanistan, tidak seperti Taliban tahun 1990-an.

Strategi perjuangan “neo-Taliban” pun meninggalkan strategi lama yang hanya mengandalkan pada kekuatan senjata. Mereka telah mengembangkan apa yang disebut sebagai “perang generasi keempat.” “Peperangan generasi keempat ‘menggunakan semua jaringan yang tersedia—politik, ekonomi, sosial, dan militer. Itulah mengapa mereka mau, antara lain, berunding dengan  AS.

Halaman:

Tags

Terkini

DAN ARTIFICIAL INTELLIGENCE PUN DIANGKAT MENJADI MENTERI

Kamis, 18 September 2025 | 07:57 WIB

TERIMA KASIH SRI MULYANI DAN SELAMAT DATANG PURBAYA

Selasa, 9 September 2025 | 05:51 WIB

KETIKA PUISI MENJADI SAKSI ZAMAN Oleh: DENNY JA

Senin, 26 Mei 2025 | 18:04 WIB