opini

JOGJA…JOGJA…JOGJAKARTA… Oleh: Trias Kuncahyono, Wartawan Senior, Penulis Buku

Sabtu, 2 April 2022 | 22:37 WIB
Ilustrasi Jl Malioboro Yogyakarta ( Instagram @malioboro_insta)

Demikian juga tiga unsur yang menjadikan kehidupan (fisik, tenaga dan jiwa) telah tercakup di dalam filosofis sumbu imajiner tersebut (jogjaprov.go.id/)

Poros-poros tersebut didapat dari akulturasi faham Hindu dan Islam yang memiliki maksud jalan lurus menuju akhirat.

Gunung Merapi ditempatkan disebelah Utara atau bagian atas yang berarti disakralkan karena Gunung Merapi merupakan wilayah yang penting bagi wiayah-wilayah di bawahnya, sekaligus menjadi pemasok utama sumber daya alam bagi wilayah sekitarnya (Zaenal Abidin Eko Putro, 2010).

Baca Juga: Resep Nusantara: Empal Gentong Kuliner Khas Cirebon, Kuah Melimpah, Menambah Gairah untuk Nambah

II

Monumen Tugu Yogyakarta, salah satu ikon di kota pelajar itu (Pic. Humas Pemprov DIY)

Poros Imajiner, sumbu nyegara gunung itu, sekarang masih ada, sebagai kearifan lokal yang menjaga budaya apa adanya. Jalan Malioboro, misalnya, ada di poros imajiner itu. Pasar Beringharjo yang dibangun dalam konteks sumbu nyegara gunung, ada di sisi poros imajiner itu. Gedung Agung, juga demikian. Yang bisik-bisik sering ditanyakan adalah, apakah “Yogya Berhati Nyaman” itu masih ada?

Sebenarnya agak berat mempertanyakan hal itu. Sebab, ada yang mengartikan kata “Yogyakarta” diambil dari kata “ayodya” yang berarti “tidak ada perang” berarti ada “kedamaian” dan “karta” yang berarti “baik.”

Sejarawan Peter Carey mengatakan, toponimi Yogyakarta berasal dari kata “Ayodhya” dalam bahasa Sansekerta (bahasa Jawa baru : “Ngayodya”), yang mengacu pada ibu kota Rama dalam epos Ramayana.

Baca Juga: Pendaftaran Calon Anggota KPI Pusat Dibuka, Simak Syarat Lengkap dan Tata Caranya

Gagasan ini diperkuat oleh buku Thomas Raffles yang sangat terkenal, History of Java (1871), yang menegaskan bahwa kota ini “diberi nama oleh pendirinya menurut nama Ayudhya, ibu kota Rama…” (krjogja.com, 2017).

Yogyakarta adalah nama pendek dari Ngayogyakarta Hadiningrat. Ia juga dikenal sebagai nama kota Arjuna, pahlawan dalam Mahabharata (Woodward 1999:20). Meskipun ada yang membantah pendapat tersebut.

Tetapi, kata ”Yogya” sekarang memiliki arti baru yakni “sesuai, layak, pantas, pas”. Artinya layak dan pantas memberikan kedamaian kepada siapa saja, semua orang Yogya dan pendatang.

Baca Juga: Edaran Panduan Ramadhan dan Idul Fitri 1443 H, Pejabat dan ASN Dilarang Adakan dan Hadiri Buka Bersama!

Tetapi, hasil survey Setara Institute tentang kota Indeks Kota Toleran Tahun 2021 yang kemarin dulu disiarkan, sungguh mengejutkan sekaligus memrihatinkan kalau dikaitkan dengan makna kata “Yogyakarta.”

Dari 94 kota di seluruh Indonesia yang disurvey, Yogyakarta ada di peringkat 22 dengan skor Indeks Kota Toleran (IKT) 5,483. Kota yang paling toleran adalah Singkawang dengan skor IKT 6,483. Kota yang paling rendah tingkat toleransinya adalah Depok dengan IKT 3,577.

Halaman:

Tags

Terkini

DAN ARTIFICIAL INTELLIGENCE PUN DIANGKAT MENJADI MENTERI

Kamis, 18 September 2025 | 07:57 WIB

TERIMA KASIH SRI MULYANI DAN SELAMAT DATANG PURBAYA

Selasa, 9 September 2025 | 05:51 WIB

KETIKA PUISI MENJADI SAKSI ZAMAN Oleh: DENNY JA

Senin, 26 Mei 2025 | 18:04 WIB