Baca Juga: Kembali ke Liga Inggris, Steven Gerrard: Aston Villa Bukan Batu Loncatan ke Liverpool
Juni 2016 Bung Nasrin mudik lebaran ke kilo Dompu ( Kidom ). Ternyata disana sudah banyak kelor kering di masyarakat. Muncul ide memproduksi Teh daun kelor.
Perjuangan usaha kelor ini tidaklah mudah. Cibiran, pesimisme dan larangan bertubi-tubi. Bisnis kelor dipandang sebelah mata dan tidak marketable. "Dari 10 teman yang saya tanya, 8 orang diantaranya tidak mendukung. Buang-buang uang dan waktu saja," katanya.
Bung Nasrin - rupanya tidak mau menyerah. Prinsip hidupnya yang harus FOKUS, KREATIF, INOVATIF dan jadilah MASTER mengharuskannya untuk terus maju.
Baca Juga: 7 Waktu Mustajab untuk Berdoa Agar Cepat Terkabul, Salah Satunya Sudah Sering Dilakukan
Dalam kondisi terpuruk, terlebih tibanya era covid 19, tak menyurutkan tekadnya untuk maju. Sisa dana yang dimiliki pengusaha kelahiran dompu tahun 1972 ini ingin investasi beli mesin untuk bisnis kelornya.
Tentangan makin keras. Ibaratnya, dari 10 teman yang saya tanya, 15 orang menentang. Semua teman tidak mendukung dan menolak, tapi saya terus lanjutkan ikhtiar.
Saya yakin Allah SWT pasti punya rencana yang terbaik. Tak diduga tak dinyana, di era covid 19 yang sangat sulit itu saya justru mendapat limpahan rakhmat yang luar biasa, kata Bung Nasrin.
Baca Juga: Peserta Ujian, Begini Cara Cetak Kartu SKB CPNS dan Aturannya
Kebijakan Bapak Gubernur dan Ibu Wakil Gubernur NTB, untuk memasukkan produk dan komoditi lokal sebagai isi paket JPS Gemilang benar-benar membantu kami para UMKM survive.
Teh kelor, minyak kelapa, minyak kayuputih/minyak atsiri, jajan kering, Teri, ikan asin, ikan kering, telur, beras, garam, sabun cuci tangan yang merupakan produk UMKM lokal memang menjadi isi paket JPS Gemilang I, II, III maupun JPS Gotong Royong.
Tak satupun barang pabrikan dibeli untuk isi paket JPS Gemilang, meski harganya mungkin lebih murah, kualitas dan kemasannya lebih bagus.
Baca Juga: WSBK Mandalika: Okupansi Hotel Meningkat, Rumah Warga Dijadikan Penginapan Jelang WSBK 2021
Kita harus serap produk UMKM lokal agar mereka survive. Meski harganya sedikit lebih mahal, kualitas nya lebih rendah tapi itulah affirmative policy dan learning cost proses industrialisasi.
"Suatu saat kita bisa hasilkan produk yang berkualitas dan harga yang bersaing," kata Gubernur NTB - Dr. H. Zulkieflimansyah SE MSc. yang basis ilmunya memang Ekonomi Industri.