Tak ada yang menyangkal, jejak-jejak Doni Monardo di Sentani tampak begitu jelas dan nyata. Bermula dari bencana alam banjir bandang di Kabupaten Jayapura tahun 2019 yang merenggut nyawa tak kurang dari 100 orang. Saat itu, sebagai kepala BNPB, Doni terjun langsung ke sana.
Bukan saja persoalan bencana banjir yang disentuh, tetapi Doni menaruh perhatian yang besar terhadap pemulihan perekonomian masyarakat.
Dalam banyak kesempatan, Doni selalu menekankan tekadnya memuliakan Papua lewat pendekatan kesejahteraan, sebagaimana jejak Emas Biru dan Emas Hijau di Maluku saat dirinya menjabat Pangdam Pattimura.
“Untuk itu, saya dan sejumlah pengusaha mempunyai gagasan meningkatkan kembali perekonomian bagi masyarakat yang terdampak, salah satunya terwujud hari ini,” jelas mantan Kepala BNPB itu.
Baca Juga: Resmi! Sirkuit Internasional Mandalika Masuk Kalender Tuan Rumah MotoGP Musim 2022
Doni bersyukur gagasannya telah terwujud. Tak lupa, ia menyampaikan terima kasih kepada para pihak yang mendukung berdirinya The Hele’yo. Doni berharap, Hele’yo akan mampu mengggerakkan perekonomian masyarakat Kampung Sereh, Sentani pada khususnya, dan warga Papua pada umumnya.
“PON XII di Papua adalah momentum yang sangat baik. Tempat ini akan menjadi salah satu destinasi wisata para peserta PON dari berbagai daerah,” tandas Doni.
Jejak Doni di Sentani
Sedikit mengilas balik jejak-jejak Doni Monardo di Sentani, tampak jelas jika kita membuka buku “Titik Nol Corona: Doni Monardo di Pusaran Wabah”. Pada halaman 213, buku karya Egy Massadiah itu mengangkat judul menarik “Theys Eluay Tersenyum di Surga”.
Baca Juga: Mesranya Kebersamaan Jokowi dan Iriana Saat Berjalan Menyusuri Hutan Mangrove di Bali.
Judul itu mengguratkan sejarah pahit yang berakhir manis. Sejak kematian tokoh Papua itu tahun 2001, hubungan Kopassus dengan Papua boleh dibilang memanas. Kopassus tidak saja mendapat kecaman masyarakat Papua, tetapi dunia.
Syahdan, Doni Monardo mendapat penugasan menjadi Danjen Kopassus tahun 2014 – 2015. Saat itu Doni masih merasakan adanya duri tajam. Doni kontan mengundang Boy Michael Eluay, putra sulung mendiang Theys ke Markas Kopassus di Cijantung, Jakarta Timur, pada momen peringatan ulang tahun Kopassus ke-63.
Boy pun keluar dari persembunyiannya dan memenuhi undangan Doni. Setelah melakukan pembicaraan dari hati ke hati, begitu intens dan mendalam. Semua kecamuk rasa dan emosi dikuak untuk kemudian diredam. Akhirnya, Boy dengan lapang dada memaafkan pelaku pembunuhan terhadap ayahnya. Kepada media, Boy saat itu mengatakan, “Tak ada lagi dendam. Kami diajarkan untuk saling mengasihi, seperti ajaran leluhur.”