opini

PERANG AI DI IRAN: KETIKA KEPUTUSAN MEMATIKAN DISERAHKAN KE MESIN

Selasa, 31 Maret 2026 | 17:00 WIB
Henry Sianipar, Dr.(Can) Henry Sianipar, M.I.Kom Kandidat Doktor Ilmu Komunikasi Usahid; Dosen Ilmu Komunikasi UBSI, Jakarta, Praktisi Penyiaran Liputan6 SCTV (Istimewa)

Kita tidak boleh meremehkan dampak psikologis dari situasi semacam ini. Dalam ilmu perilaku, kita mengenal istilah automation bias: kecenderungan manusia mempercayai keluaran sistem otomatis karena ia terlihat lebih cepat, lebih lengkap, dan lebih objektif dibanding penilaian manusia biasa. Dalam kehidupan sipil, bias ini bisa membuat orang salah membaca dashboard atau terlalu percaya pada rekomendasi perangkat lunak. Dalam perang, akibatnya jauh lebih gelap. Bias itu dapat mengubah daftar probabilitas menjadi ledakan nyata. Ia menggeser beban moral dari “apakah ini benar?” menjadi “apakah sistem sudah cukup yakin?”

 Menariknya, bahkan di dalam ekosistem pertahanan Amerika sendiri, pertanyaan soal batas moral itu belum selesai. Reuters pada 11 Maret melaporkan sengketa antara Anthropic dan Pentagon meletus setelah perusahaan AI itu menolak melonggarkan safety guardrails pada sistemnya. Menurut Reuters, salah satu titik sengketanya adalah keberatan terhadap penggunaan teknologi untuk senjata otonom dan pengawasan domestik. NPR juga menekankan bahwa perselisihan antara Pentagon dan Anthropic pada dasarnya menunjukkan garis batas yang belum mapan: sejauh mana AI boleh masuk ke keputusan penggunaan kekuatan mematikan. Jika para pembuat sistem, kontraktor pertahanan, dan negara sendiri belum sepakat tentang pagar pembatasnya, maka publik jelas punya alasan untuk tidak merasa tenang. 

 Baca Juga: Meta dan Google Dipanggil Pemerintah! Aturan Baru Perlindungan Anak Bikin Raksasa Digital Kena Tegur

Lalu perang modern ternyata bukan cuma soal siapa yang paling canggih menghitung target. Ia juga soal siapa yang paling canggih memanipulasi persepsi. Pada 10 Maret, NPR dan Financial Time melaporkan perang Iran-Israel berlangsung di medan hibrida digital-fisik. Menurut laporan itu, operasi awal AS-Israel  berlangsung juga di ruang siber.  Ketua Joint Chiefs of Staff AS, Jenderal Dan Caine, menyatakan operasi ruang angkasa dan siber membantu mengganggu komunikasi serta jaringan sensor lawan. NPR juga melaporkan klaim-klaim tentang peretasan kamera lalu lintas, aplikasi doa, dan operasi pengaruh psikologis yang sebagian diantaranya dikaitkan ke pejabat atau sumber tertentu dan tidak semuanya terverifikasi secara independen. Namun pesan strategisnya jelas: sebelum misil ditembakkan, lingkungan informasi lebih dulu dibentuk. 

BBC memperkuat gambaran itu pada 12 Maret. Mereka menulis bahwa dalam perang ini ruang siber memainkan peran penting sebagai force multiplier: membantu “membutakan” kemampuan lawan untuk melihat, berkomunikasi, dan merespons. BBC juga menulis bahwa peretasan, pre-positioning di jaringan lawan, eksploitasi kamera internet, serta pencarian target berbasis data kemungkinan dipadukan dengan kecerdasan yang lebih konvensional. Kalimat kuncinya bagi saya adalah ini: perang siber bukan senjata penentu yang berdiri sendiri, tetapi pengganda yang membentuk lingkungan informasi tempat kekuatan kinetik kemudian bekerja.

Baca Juga: Satu Gaji Nggak Cukup Lagi di 2026? Ini Alasan dan Solusi Cerdas Biar Tetap Aman Finansial

Dengan kata lain, misil hari ini semakin sering datang setelah data dibersihkan, jaringan dibungkam, dan target dipetakan terlebih dahulu oleh operasi digital.

Bahkan kabut perang itu sendiri kini diproduksi dengan mesin. Pada 7 Maret, BBC melaporkan gelombang besar disinformasi berbasis AI tentang perang Iran seperti video sintetis, citra satelit palsu, dan visual ledakan yang dimonetisasi demi engagement. Sejumlah konten palsu itu memperoleh ratusan juta tayangan. Ini penting, karena perang algoritmik bukan hanya terjadi saat mesin membantu memilih target, tetapi juga saat mesin membantu membentuk apa yang diyakini publik sebagai kenyataan. Jadi, medan perang kini punya dua wajah sekaligus: algoritma yang mengurutkan sasaran, dan algoritma yang mengacaukan persepsi.

 

Di sisi persenjataan, pertengahan Maret juga memperlihatkan bahwa Iran tetap berbahaya bukan karena satu senjata ajaib, melainkan karena kombinasi volume, jangkauan, dan daya tahan produksi. Reuters pada 20 Maret 2026 melaporkan misil dan drone Iran masih terus menghantam fasilitas energi dan target lain di negara-negara Teluk hampir tiga minggu setelah perang dimulai. Reuters menyebut Iran memiliki stok misil balistik terbesar di Timur Tengah sebelum perang, dengan estimasi yang bervariasi antara sekitar 2.500 hingga 6.000 unit, serta kapasitas produksi drone sekitar 10.000 per bulan menurut Centre for Information Resilience. Beberapa misil yang ditembakkan disebut memiliki cluster munition warheads yang lebih sulit dinetralisir oleh sistem pertahanan Israel. Ini memperlihatkan bahwa keunggulan Iran tidak semata bertumpu pada presisi, tetapi pada logika saturasi: membanjiri ruang pertahanan dengan ancaman yang cukup banyak, cukup murah, dan cukup berulang untuk memaksa lawan mengeluarkan biaya besar terus-menerus.

 

Analisis CSIS menarik karena menempatkan kampanye drone Iran bukan terutama sebagai alat penghancur langsung, melainkan sebagai instrumen tekanan ekonomi, psikologis, dan operasional. CSIS juga mencatat kemungkinan keterlibatan varian Geran-2 produksi Rusia yaitu turunan dari Shahed-136, dengan modifikasi seperti sistem navigasi tahan-jamming Kometa-M. Jika benar, hal ini menjadi transfer teknologi drone Iran-Rusia yang dulu tampak satu arah kini mungkin menjadi semakin timbal balik. Artinya, medan perang bukan lagi sekadar tempat negara memakai senjata, tetapi juga menjadi laboratorium tempat ekosistem teknologi saling menyerap inovasi satu sama lain.

 

Sementara itu, di pihak AS-Israel, pelajaran dari Ukraina dan dari Shahed Iran tampak diadopsi secara terbuka. Reuters pada 3 Maret melaporkan debut drone ‘bunuh diri murah’ LUCAS, yang menurut U.S. Central Command dimodelkan dari Shahed. LUCAS jauh lebih murah daripada platform seperti MQ-9 Reaper dan dirancang dengan arsitektur terbuka, sehingga cocok untuk logika perang attritable, dengan ciri murah, bisa diproduksi cepat, dan dapat hilang tanpa melumpuhkan keseluruhan sistem. Dengan kata lain, lawan tidak hanya saling serang. Mereka saling meniru filosofi efisiensi satu sama lain. Bahkan dalam permusuhan, algoritma ekonomi perang membuat para aktor berbicara dalam bahasa yang sama: lebih cepat, lebih murah, lebih massal.

 

Halaman:

Tags

Terkini

DAN ARTIFICIAL INTELLIGENCE PUN DIANGKAT MENJADI MENTERI

Kamis, 18 September 2025 | 07:57 WIB

TERIMA KASIH SRI MULYANI DAN SELAMAT DATANG PURBAYA

Selasa, 9 September 2025 | 05:51 WIB

KETIKA PUISI MENJADI SAKSI ZAMAN Oleh: DENNY JA

Senin, 26 Mei 2025 | 18:04 WIB