Semangat Paus Yohanes XXIII yang sederhana, penuh kerendahan hati, kebaikan hati yang mendalam, dan kehidupan doa yang mendalam terpancar dalam semua tindakannya, dan mengilhami orang-orang untuk memanggilnya dengan penuh kasih sayang, "Paus Yohanes yang balk."
Paus Fransiskus yang disebut "Pope of People, Pope of Mercy, Pope of Peace, A Man of His Word," dan sebagainya adalah paus yang rendah hati, sederhana, hatinya terbuka bagi siapa saja, paus yang mendatangi bukan yang didatangi, paus yang melayani bukan dilayani, yang sangat peduli pada kaum miskin dan papa serta yang terpinggirkan, paus yang menghangatkan dunia.
Dan ucapan pertamanya malam itu — "Buonasera" ("Selamat malam") yang sangat normal — hingga pelukannya kepada para pengungsi, kaum tertindas, dan kaum terpinggirkan, Fransiskus mengisyaratkan nada yang sangat berbeda untuk kepausan, menekankan kerendahan hati atas tuduhan kesombongan Gereja Katolik yang diliputi skandal dan ketidakpedulian. la menampilkan wajah baru Gereja.
Baca Juga: Carlo Ancelotti, Pelatih Asing Pertama Brasil Yang Digadang Bisa Memenangkan Piala Dunia 2026
Dan kemudian, Fransiskus disebut paus pinggiran yang mencintai orang banyak dan suka berkeliling dunia menyapa dan memeluk siapa saja, mendatangi siapa saja, tidak menunggu didatangi. Paus yang murah senyum. Kata Paus Fransiskus, "Senyuman itu, belaian lembut, belaian hati, belaian jiwa (Franciscus, Pope for the People, 2024).
Yang juga membuat hati tenang dan bahagia, kata Paus Fransiskus, "Jangan menyebarkan agama, bekerjalah untuk perdamaian, bekerjalah pada pekerjaan yang memberikan martabat dasar, melepaskan perasaan negatif, menjalani hidup dengan tenang, menikmati seni, buku, dan kesenangan."
Maka, ketika tersiar berita Paus Fransiskus berpulang, para pemimpin dunia memuji komitmennya terhadap kaum terpinggirkan dan perdamaian, serta persaudaraannya. Presiden Prancis Emmanuel Macron, menulis di X: "Dad Buenos Aires hingga Roma, Paus Fransiskus ingin gereja membawa kegembiraan dan harapan bagi yang termiskin.... Semoga harapan ini selamanya bertahan lebih lama darinya." (The Intelligencer, 21 April)
Baca Juga: REVIEW Samsung Galaxy S25 Edge, Spesifikasi, Keunggulan dan Harga Terbaru Mei 2025
Paus Fransiskus menavigasi realitas yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam memimpin agama universal melalui pandemi virus corona dari Kota Vatikan yang terkunci. "Kita telah menyadari bahwa kita berada di perahu yang sama, kita semua rapuh dan bingung," kata Paus Fransiskus di Lapangan Santo Petrus yang kosong pada Maret 2020.
la juga menyerukan pemikiran ulang tentang kerangka ekonomi global. Kata Paus Fransiskus pandemi menunjukkan perlunya "kita semua untuk mendayung bersama, masing-masing dari kita perlu menghibur yang lain."
Paus asal Argentina ini dikenal sebagai Pontifex, pembangun jembatan yang menghubungkan umat Katolik dan Islam dengan menandatangani Deklarasi Abu Dhabi (The Document on Human Fraternity for World Peace and Living Together), 4 Februari 2019 dengan Imam Besar, AI-Azhar, Kairo, Mesir, Ahmad al-Tayyib; juga Deklarasi Istiqlal di Jakarta.
Baca Juga: Paus Fransiskus: Terowongan Istiqlal-Katedral Sarana Perjumpaan, Dialog, dan Persaudaraan
Di Najaf, Irak pada Maret 2021, Paus Fransiskus menemui Grand Ayatollah Sayyid Ali Al-Husayni AI-Sistani di rumahnya. Rumah Al-Sistani dekat dengan Masjid Imam Ali, yang oleh orang-orang Shiah dipandang sebagai tempat tersuci ketiga setelah Makkah dan Madinah. Al-Sistani adalah pemimpin kaum Shiah, Irak (Vatican News, 6 Maret 2022).
Didorong oleh kepedulian dan kecintaannya pada ciptaan, pada alam semesta yang dilandasi semangat Santo FransiskusAsisi, Paus Fransiskus menerbitkan Ensiklik Laodato Si (Terpujilah Engkau — Tentang Kepedulian terhadap Rumah Bersama Kita), 24 Mei 2015.
Ensiklik Fratelli Tutti (Semua Saudara) yang diterbitkan 3 Oktober 2020 tentang Persaudaraan dan Persahabatan Sosial, menegaskan bagaimana Paus Fransiskus memandang sesama manusia, siapa pun mereka. "Kita adalah saudara," katanya.