Konsentrasi media bukan sekadar isu ekonomi, tetapi ancaman eksistensial bagi demokrasi. Ketika 13 keluarga mengendalikan opini publik, kita menghadapi oligarki informasi yang membahayakan deliberasi demokratis. Konsentrasi media pada 13 keluarga adalah bentuk pemindalan opini (manufacturing consent) yang mengancam kedaulatan epistemik masyarakat. Jika media dikuasai kekuasaan, bukan rakyat, maka suara yang kita dengar di layar adalah monolog elit, bukan dialog bangsa.
Pertanyaan kritis bukan hanya "siapa yang bicara di layar?" tetapi "suara siapa yang dibungkam?" Demokratisasi media membutuhkan tindakan kolektif: literasi kritis, dukungan media independen, dan tekanan politik untuk reformasi struktural. Tanpa itu, demokrasi kita hanya akan menjadi teater bagi kepentingan segelintir elit.***
Artikel Terkait
'Piramida Transportasi Indonesia' Oleh Ari Askhara Pengamat Transportasi Indonesia
Antara Penegakan Hukum dan Ancaman terhadap Kemerdekaan Pers, Oleh: Moehammad Gafar Yoedtadi
OPINI "Nyenyak di Hotel Mewah, Gelisah di Rumah Rakyat" Oleh: Budiawan, Host "Cangkrukan"
'JIKA SEBUAH NADA DIBERIKAN HAK ' - Kasus Keenan Nasution vs Vidi Aldiano, dan Evolusi Royalti Lagu (2) Oleh Denny JA
ROYALTI LAGU ERA AI: SIAPA PEMILIK JIKA ALGORITMA YANG MENCIPTA? - Keenan Nasution vs Vidi Aldiano, Sengketa Lagu Nuansa Bening (3) Oleh Denny JA