TITIKTEMU.CO
JAKARTA -
Petisi penolakan glorifikasi terhadap mantan narapidana kasus asusila, Saipul Jamil tembus di angka 400 ribu. Artinya, kekhawatiran masyarakat terhadap dampak tayangan SJ di televisi cukup besar.
Baca Juga: Petisi Boikot Saipul Jamil Tembus 400 Ribu Tanda Tangan, Targetnya Setengah Juta
Seperti dikemukakan Psikolog Oriza Sativa melalui siaran live di salah satu stasiun televisi swasta, TV One, Selasa Pagi (7/9/2021), bahwa dampak psikologis dari tayangan tersebut tidak sesederhana yang kita pikirkan.
“Kalau psikolog kan memandang segala sesuatu secara luas dan berusaha berpikir bijaksana. Maaf, banyak pelaku-pelaku (pedofilia) di luar sana. Jika melihat tayangan (glorifikasi) seperti itu, mereka akan berpikir seolah-olah kita memberikan panggung. Seolah-olah ini dibenarkan, seolah tidak ada masalah. Itu yang sebenarnya sangat kita sayangkan,” ungkap Oriza.
Baca Juga: Banjir Kritik, TransTV Minta Maaf Beri Panggung Saipul Jamil
Oriza mengatakan, dia selalu menyampaikan dalam setiap kesempatan kepada semua orang bahwa apapun yang kita lakukan, harus bermuara pada peningkatan kualitas hidup manusia. Dengan begitu segala tindakan yang akan diambil harus mempertimbangkan konsekwensi baik buruknya.
“Letak kesalahan kita dan sebagian besar masyarakat Indonesia, tidak bisa meletakkan segala sesuatu dalam perspektif atau cara pandang yang benar,” katanya.
Baca Juga: KPAI dan Netizen Kecam Saipul Jamil Muncul di TV, KPI: Nggak Masalah!
Ditanya berapa besar dampak tayangan SJ di televisi? Oriza menjawab, bahwa dampaknya menjadi sangat buruk di masyarakat. Karena apapun bentuk tayangannya, seharusnya mempertimbangkan berbagai pihak lain, seperti para korban, masyarakat yang menonton, anak anak, termasuk para orang tua yang menjadi was-was.
“Berdampak terhadap penonton, jelas itu tidak bisa kita pungkiri. Dan ini menjadi pelajaran kita semua. Kalau pihak kelurga menyampaikan faktor ketidaksengajaan, bukan sesederhana itu. Apalagi dalam situasi pandemi saat ini, mungin masyarakat harus mempertebal rasa empati.” Ujar Oriza.
Menurut Oriza, dampak buruk yang timbul akibat glorifikasi mantan pelaku kejahatan seksual sangat komplek. Dalam kasus ini, biasanya koban mengalami shok, kemudian malu, marah, kecewa, menarik diri, dan terjadilah proses berpikir negatif yang memunculkan perilaku psikopatologi.
“Tayangan glorifikasi bisa jadi akan membuka kenangan lama bagi para korban, yang saya yakin di luar sana jumlahnya tidak sedikit lho.” Demikian Oriza Sativa.
Ditambahkan, sebenarnya masih banyak kasus pelecehan seksual termasuk pedofil di luar. Yang menjadi masalah, sejauh ini 90 % kasus, korban tidak melapor, mungkin karena malu dan sebagainya. Di sisi lain, masyarakat banyak yang belum paham, apa yang dimaksud pelecehan seksual, apa yag harus dilakuan, kemudian bagaimana penanganannya, mereka juga banyak yang belum memahami (ewa)***