Saat listrik padam, perusahaan harus mengaktifkan genset cadangan, membeli bahan bakar ekstra, melakukan restart sistem produksi, dan mengatur ulang jadwal operasional.
Semua itu membutuhkan biaya yang pada akhirnya menggerus efisiensi usaha.
Tidak hanya perusahaan besar yang terkena dampaknya.
Pelaku usaha kecil dan menengah justru berada dalam posisi yang lebih rentan.
Banyak UMKM tidak memiliki sumber listrik cadangan sehingga ketika listrik padam, aktivitas usaha benar-benar berhenti.
Bagi pedagang makanan, penyedia jasa digital, atau bisnis berbasis pendingin, gangguan beberapa jam saja dapat menyebabkan kerugian yang signifikan.
Baca Juga: Keuangan Syariah Bukan Cuma untuk yang Religius — Ini Logika Bisnis yang Membuatnya Terus Tumbuh
Kekhawatiran lain yang mulai mencuat adalah soal citra Indonesia di mata investor.
Dalam dunia bisnis modern, keandalan infrastruktur menjadi salah satu faktor utama sebelum investor memutuskan menanamkan modal.
Ketika gangguan listrik terjadi berulang, muncul pertanyaan tentang kepastian operasional dan keberlanjutan usaha.
Sektor-sektor berteknologi tinggi seperti pusat data, farmasi, semikonduktor, petrokimia, dan industri baja termasuk yang paling sensitif terhadap gangguan pasokan listrik.
Pada industri seperti ini, pemulihan sistem setelah listrik padam tidak bisa dilakukan dalam hitungan menit.
Kadang diperlukan waktu berjam-jam bahkan lebih lama untuk mengembalikan operasi ke kondisi normal.