TITIKTEMU.CO-Bayangkan menatap Bulan purnama, lalu perlahan sebagian besar wajahnya berubah merah seperti tembaga. Pemandangan itu akan hadir pada malam 27 hingga dini hari 28 Agustus 2026 saat Gerhana Bulan Sebagian melintasi langit.
Fenomena astronomi ini menarik perhatian karena bukan gerhana biasa. Pada titik maksimumnya, sekitar 96,2 persen piringan Bulan akan masuk ke dalam bayangan inti Bumi atau umbra.
Artinya, hanya sebagian kecil tepian Bulan yang tetap terlihat terang. Sisanya akan tampak lebih gelap dengan semburat kemerahan, menciptakan penampilan yang sekilas mengingatkan pada Blood Moon.
Baca Juga: Desa Adat Sade Terbakar, 129 Rumah Ludes: Menpar Siapkan Langkah Besar untuk Bangkitkan Sade
Meski begitu, ada satu hal penting: fenomena ini belum bisa disebut Gerhana Bulan Total. Pasalnya, masih ada bagian kecil permukaan Bulan yang berada di luar bayangan umbra Bumi sehingga tidak seluruh piringannya berubah merah.
Gerhana Bulan sendiri terjadi ketika Matahari, Bumi, dan Bulan berada dalam posisi hampir segaris. Bumi kemudian menghalangi sebagian cahaya Matahari yang seharusnya mencapai Bulan dan menghasilkan bayangan yang bergerak melintasi permukaannya.
Warna merah yang muncul bukan karena Bulan tiba-tiba berubah warna.
Cahaya Matahari yang melewati atmosfer Bumi mengalami penyaringan, sementara warna dengan panjang gelombang tertentu lebih mudah tersebar.
Cahaya kemerahan yang tersisa kemudian ikut menerangi permukaan Bulan.
Yang membuat Gerhana Bulan 2026 ini semakin menarik adalah durasinya. Jika seluruh rangkaian dihitung sejak fase penumbra hingga proses gerhana sebagian berakhir, fenomena tersebut berlangsung sekitar 5 jam 38 menit.
Menurut data Time and Date, kesempatan untuk menyaksikan keseluruhan rangkaian tidak dimiliki semua orang. Sekitar 987 juta penduduk dunia atau 12 persen populasi diperkirakan berada di wilayah yang dapat melihat seluruh prosesnya.
Sementara itu, sekitar 1,3 miliar orang atau 16 persen populasi dunia berpeluang menyaksikan fase gerhana sebagian secara penuh. Jadi, jendela pengamatannya cukup luas, meskipun pengalaman tiap wilayah tentu berbeda.
Artikel Terkait
Bukan Sekadar Uang Masuk Kampus, Ini Alasan KPK Jerat Rektor Unsoed dengan 2 Pasal
Sidang Uji Formil UU Polri Mendadak Ditunda, Ada Apa di Balik Keputusan MK?
"Media di Persimpangan: Ketika Idealisme Tak Cukup Membayar Gaji" Opini: Agus Sulistriyono - CEO Promedia Group
KPK Ungkap Dugaan Korupsi Jalur Mandiri Unsoed: Ada Pungutan di Luar UKT dan IPI hingga Rp1,12 Miliar
Mahasiswa Unsoed Jalur Mandiri Bermasalah Tetap Bisa Kuliah, KPK Tegaskan Tak Campuri Status Akademik
Taman Nasional Way Kambas Terbakar, Diduga Sengaja Dibakar: Petugas Terkendala Akses dan Lahan Gambut
Desa Adat Sade Terbakar, 129 Rumah Ludes: Menpar Siapkan Langkah Besar untuk Bangkitkan Sade