TITIKTEMU.CO – Malam itu langit Solo begitu bersahabat. Udara terasa sejuk, sementara kursi-kursi di Amphi Teater Taman Balekambang perlahan dipenuhi penonton yang datang bersama keluarga, sahabat, hingga rombongan wisatawan. Di penghujung libur panjang akhir Mei 2026, ribuan orang memilih menikmati malam dengan menyaksikan pementasan Ramayana Balekambang bertajuk "Shinta Ilang", karya spektakuler dari Rah Art Community.
Ketika lampu panggung mulai menyala pada Jumat (29/5/2026) sekitar pukul 20.00 WIB, perhatian penonton langsung tertuju ke panggung terbuka yang megah. Gemerincing musik tradisional berpadu tata cahaya dramatis mengantar penonton memasuki kisah klasik Ramayana yang kali ini dikemas dengan nuansa segar dan penuh kejutan.
Pementasan ini menjadi istimewa karena menghadirkan para seniman lintas generasi dari Soloraya. Anak-anak, remaja, hingga seniman senior tampil bersama dalam satu panggung, menunjukkan bahwa warisan budaya dapat terus hidup melalui regenerasi yang nyata.
Baca Juga: Dalang Ki Anom Suroto Meninggal di Usia 77 Tahun, Maestro Wayang Kulit Lima Benua
Di antara rangkaian adegan yang sarat makna, kemunculan kijang emas menjadi salah satu momen paling berkesan. Bukan hanya karena perannya yang penting dalam alur cerita, tetapi juga karena penyajiannya yang menghibur. Gerak tari para penari cilik yang lincah dan ekspresif sukses mencuri perhatian penonton.
Tawa pun pecah berkali-kali dari bangku penonton. Anak-anak yang tampil dengan polos dan energik menghadirkan suasana ringan di tengah kisah yang sesungguhnya menyimpan tragedi. Beberapa penonton bahkan terlihat tertawa terpingkal-pingkal saat adegan tersebut berlangsung, sebelum kembali larut dalam ketegangan cerita.
Malam itu, "Shinta Ilang" bukan sekadar pertunjukan tari. Ia menjadi ruang pertemuan emosi. Ada tawa, kekaguman, sekaligus keharuan yang bergantian hadir sepanjang pementasan.
Sutradara pertunjukan, Benedictus Billy Aldi Kusuma, menjelaskan bahwa kisah yang diangkat berfokus pada fase penting dalam epos Ramayana, yakni saat Dewi Shinta diculik Rahwana setelah serangkaian tipu daya yang terjadi di Hutan Dandaka.
Baca Juga: Dibintangi Niken Salindri, Pagelaran Wayang Kulit Hibur Warga Di Alun-alun Klaten
Menurut Billy, kisah tersebut berbicara tentang kehilangan yang dialami hampir setiap manusia dalam kehidupannya.
"Di Hutan Dandaka, sunyi menjadi saksi kehilangan, kesetiaan dan pengorbanan. Sarpakenaka membawa nafsu dan luka yang menjadi awal petaka. Ambisi Rahwana melahirkan tipu daya, sementara Marica menjelma menjadi kijang emas yang memikat perhatian. Rama pergi, Lesmana menjauh, dan kesunyian membuka celah. Shinta pun hilang, bukan karena lemah, tetapi karena dunia sering kali kalah oleh muslihat," ujarnya.
Dalam pementasan itu, sosok Jatayu juga menjadi simbol keberanian yang menyentuh hati. Burung perkasa tersebut digambarkan berjuang melawan takdir demi membela kebenaran, meski harus mengorbankan nyawanya.
Bagi Billy yang juga Ketua Rah Art Community, pesan utama yang ingin disampaikan sangat sederhana namun mendalam: cinta tidak selalu diuji saat kebersamaan berlangsung, melainkan ketika kehilangan datang menghampiri.
Baca Juga: Mengenal Sendratari Ramayana Yang Menutup Rangkaian Tumbuk Ageng PA X
Artikel Terkait
Bupati Demak Pentas Kethoprak Wayang, Sosialisasi Gempur Rokok Ilegal
Tampang Garang Hati Dermawan, Rame rame Rocker Solo Pentas Amal untuk Korban Erupsi Gunung Semeru
Kover Anthem AC Milan, Rumah Angklung Diundang Pentas ke Italia. Gilang dan Raffi Ahmad Sumbang 500 Juta
Mau Liburan Akhir Tahun di Solo, Ini Jadwal Pentas Wayang Orang Sriwedari Desember 2023, Lengkap!!
Sampaikan Duka Cita, Ganjar Pranowo Melayat ke Rumah Subono. Ini Pesan Terakhir Pemeran Semar yang Meninggal Usai Pentas di Hajatan Rakyat
Aseek, Purbalingga Bakal Perbanyak Pentas Seni Budaya Lokal
Jadwal Pentas Wayang Orang Sriwedari Solo Juli 2024, Lengkap dengan Lakon dan Harga Tiket Masuknya
Ada Talkshow, Pentas Kesenian hingga Pemutaran Sinema Kethoprak Di HUT Bantul
Ini Baru Keren, Pentas Wayang Kulit Dalangnya Mahasiswa
Pentas Teater Djarum di Teater Arena Solo, Para Petarung: Drama Musikal Perjuangan Kaum Kecil