Kematian ribuan ikan hanyalah salah satu gejala dari perubahan besar di pesisir Demak. Proyek Tol dan Tanggul Laut Semarang–Demak, yang disebut sebagai solusi rob berkepanjangan, justru memunculkan masalah baru.
Infrastruktur penunjang belum seluruhnya bekerja. Pompa air belum beroperasi optimal, saluran pembuangan masih terputus, dan kolam retensi belum dapat berfungsi sebagaimana mestinya.
Fenomena rob yang bertahan hingga berminggu-minggu di jalur Pantura pun menjadi bukti nyata. “Kondisi ini seperti comberan raksasa,” ujar Bagas Kurniawan dari WALHI Jateng.
Menurutnya, air hujan dan limpasan dari daratan tidak punya jalan keluar, sementara air laut terhalang tanggul. Tanpa sirkulasi, kualitas air memburuk dan mematikan ekosistem pesisir yang tersisa.
Baca Juga: Air Laut Setinggi Tanggul: Warga Cemas Jakarta Bisa Tenggelam Bila Pantai Mutiara Jebol
Dia juga menyoroti kebiasaan menutup aliran sungai-sungai kecil demi percepatan konstruksi. Padahal sungai-sungai itu merupakan jalur penting sirkulasi air.
Penutupan jalur aliran, sengaja maupun tidak, akan mengubah pesisir menjadi ruang stagnan yang rawan mengalami eutrofikasi dan keracunan ekologis.
Gelombang yang memantul akibat tanggul juga memicu abrasi di titik lain, mendorong kerusakan ke wilayah yang sebelumnya selamat.
“Proyek yang tak memperhitungkan dinamika arus akan memindahkan masalah, bukan menyelesaikannya,” kata Bagas.
Baca Juga: BNPN: Banjir Bandang Aceh–Sumatera Tewaskan 969 Orang, Pencarian Terus Dilakukan
Ancaman Jangka Panjang dan Pertaruhan Kebijakan
Pesisir Demak sudah lama berada di garis merah. Climate Central memperkirakan sebagian wilayahnya dapat tenggelam pada 2030 akibat penurunan tanah, abrasi, rob, dan kenaikan permukaan air laut.
Pembangunan tanggul laut dan jalan tol di atasnya selama ini kerap kali dipromosikan sebagai jawaban atas ancaman itu.
Namun Aris Ismanto menilai proyek sebesar ini membutuhkan keterbukaan dokumen dan kajian ilmiah yang komprehensif.
“Kajian harus dibuka agar bisa diuji publik. Proyek raksasa seperti Giant Sea Wall tidak bisa hanya mengandalkan satu pendekatan,” katanya.
Artikel Terkait
Hujan Ekstrem, Siklon, dan Hutan Gundul di Balik Banjir Bandang Sumatera-Aceh
Siapa yang Berhak Menetapkan Bencana Nasional? Cak Imin Buka Suara soal Banjir Sumatera
Ketika Danau Singkarak Jadi Jernih Seperti Sungai Swiss Usai Banjir Bandang, Apa yang Terjadi?
KLH Hentikan Operasi Empat Perusahaan di Batang Toru, Diduga Penyebab Banjir dan Longsor di Sumatera
Kisah Kayu-kayu Hanyut yang Mengabarkan Rusaknya Ekologi di Sumatera