Sisi Kelam Proyek Tol Demak: Ikan-ikan Mati di Sepanjang Pesisir

photo author
Ken Maesa Pamenang, TitikTemu.co
- Kamis, 11 Desember 2025 | 16:05 WIB
Sisi Kelam Proyek Tol: Ikan-ikan Mati di Sepanjang Pesisir Demak. (ANTARAFOTO/Aji Styawan)
Sisi Kelam Proyek Tol: Ikan-ikan Mati di Sepanjang Pesisir Demak. (ANTARAFOTO/Aji Styawan)

Kematian ribuan ikan hanyalah salah satu gejala dari perubahan besar di pesisir Demak. Proyek Tol dan Tanggul Laut Semarang–Demak, yang disebut sebagai solusi rob berkepanjangan, justru memunculkan masalah baru.

Infrastruktur penunjang belum seluruhnya bekerja. Pompa air belum beroperasi optimal, saluran pembuangan masih terputus, dan kolam retensi belum dapat berfungsi sebagaimana mestinya.

Fenomena rob yang bertahan hingga berminggu-minggu di jalur Pantura pun menjadi bukti nyata. “Kondisi ini seperti comberan raksasa,” ujar Bagas Kurniawan dari WALHI Jateng.

Menurutnya, air hujan dan limpasan dari daratan tidak punya jalan keluar, sementara air laut terhalang tanggul. Tanpa sirkulasi, kualitas air memburuk dan mematikan ekosistem pesisir yang tersisa.

 Baca Juga: Air Laut Setinggi Tanggul: Warga Cemas Jakarta Bisa Tenggelam Bila Pantai Mutiara Jebol

Dia juga menyoroti kebiasaan menutup aliran sungai-sungai kecil demi percepatan konstruksi. Padahal sungai-sungai itu merupakan jalur penting sirkulasi air.

Penutupan jalur aliran, sengaja maupun tidak, akan mengubah pesisir menjadi ruang stagnan yang rawan mengalami eutrofikasi dan keracunan ekologis.

Gelombang yang memantul akibat tanggul juga memicu abrasi di titik lain, mendorong kerusakan ke wilayah yang sebelumnya selamat.

“Proyek yang tak memperhitungkan dinamika arus akan memindahkan masalah, bukan menyelesaikannya,” kata Bagas.

Baca Juga: BNPN: Banjir Bandang Aceh–Sumatera Tewaskan 969 Orang, Pencarian Terus Dilakukan  

Ancaman Jangka Panjang dan Pertaruhan Kebijakan

Pesisir Demak sudah lama berada di garis merah. Climate Central memperkirakan sebagian wilayahnya dapat tenggelam pada 2030 akibat penurunan tanah, abrasi, rob, dan kenaikan permukaan air laut.

Pembangunan tanggul laut dan jalan tol di atasnya selama ini kerap kali dipromosikan sebagai jawaban atas ancaman itu.

Namun Aris Ismanto menilai proyek sebesar ini membutuhkan keterbukaan dokumen dan kajian ilmiah yang komprehensif.

“Kajian harus dibuka agar bisa diuji publik. Proyek raksasa seperti Giant Sea Wall tidak bisa hanya mengandalkan satu pendekatan,” katanya.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Ken Maesa Pamenang

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X