Jepang sendiri, lanjutnya, melakukan survei lapangan dan riset mendalam selama empat tahun.
Sementara studi China dianggap tidak empiris, sehingga menjadi salah satu alasan terjadinya pembengkakan biaya (cost overrun) proyek Whoosh.
Kritik Rocky Gerung membuka kembali perdebatan panjang soal urgensi, teknologi, hingga geopolitik di balik proyek Whoosh Jakarta–Bandung.
Dari isu manfaat publik, klaim lompatan teknologi, hingga dugaan kepentingan asing, Whoosh kini berada di persimpangan antara simbol pembangunan atau sekadar proyek prestisius yang penuh tanda tanya.
Publik pun menunggu bagaimana pemerintah menjawab kritik dan fakta-fakta yang terus mencuat.***
Artikel Terkait
Belajar Menerima Diri Sendiri: Simak 7 Latihan Psikologis untuk Hidup Lebih Tenang
Menkeu Purbaya: Pemda Belum Ajukan Tambahan Dana untuk Banjir Sumatera, Anggaran Lokal Terus Tergerus
Kamu Tidak Gagal, Kamu Hanya Sedang Belajar: Cara Membangun Mental Tahan Banting
Skema UMP 2026 Direvolusi: Presiden Setuju, Kenaikan Tak Lagi Satu Angka untuk Semua Daerah!
Status Bandara IMIP Dicabut Diam-Diam Sejak Oktober: Fakta Baru, Regulasi Ketat, dan Polemik yang Membesar
Stop Jadi People Pleaser: 7 Batasan Sehat yang Harus Kamu Terapkan Tahun Ini
Silent Reset: Cara Diam-Diam Memperbaiki Hidup Tanpa Perlu Mengumumkan Apa Pun
Keberlanjutan Kebijakan Bukan Intervensi: Hasan Nasbi Tegaskan Sistem Pembangunan Nasional yang Konsisten
Prabowo Tegaskan Perang Total terhadap Mark Up Anggaran dan Korupsi di Pemerintahan
Banjir Bandang Sumatera–Aceh: Prabowo Pastikan Pemerintah Bergerak Cepat Kirim Bantuan Darat dan Udara