Mendorong Asuransi yang Dibeli, Bukan Dijual: IFG Dorong Industri Berbasis Riset dan Empati

photo author
Leihana, TitikTemu.co
- Sabtu, 29 November 2025 | 06:05 WIB
IFG perkuat industri asuransi berbasis riset untuk tingkatkan inklusi dan kesadaran perlindungan risiko.  (Dok IFG)
IFG perkuat industri asuransi berbasis riset untuk tingkatkan inklusi dan kesadaran perlindungan risiko. (Dok IFG)

TITIKTEMU.CO - Indonesia Financial Group (IFG) kembali memperkuat visinya menghadirkan industri asuransi nasional yang bertumpu pada riset kredibel, berorientasi pada kebutuhan masyarakat, dan relevan dengan perkembangan zaman.

Lewat IFG Research Dissemination 2025 bertema “Bridging Gaps: Behavioural Economics, Microinsurance, and Regional Mapping for Insurance and Guarantee Inclusion”, IFG mempertemukan akademisi, peneliti, dan pelaku industri untuk merumuskan strategi peningkatan penetrasi asuransi yang lebih inklusif dan berkelanjutan.

Acara tersebut dihadiri oleh Direktur Utama IFG Hexana Tri Sasongko, Direktur Teknik Rianto Ahmadi, Wakil Direktur Utama Haru Koesmahargyo, Head of IFG Progress Ibrahim Kholilul Rohman, serta tim riset dari berbagai perguruan tinggi seperti Universitas Indonesia, Universitas Brawijaya, UII, Universitas Sam Ratulangi, dan Universitas Nusa Cendana.

Dalam sambutannya, Hexana menegaskan pentingnya riset sebagai ruh penggerak industri asuransi.

“Di negara maju, asuransi adalah produk yang dibeli masyarakat, bukan dijual. Mereka sadar akan pentingnya perlindungan risiko,” ujarnya.

Hexana berharap paradigma tersebut juga bisa tumbuh di Indonesia: masyarakat membeli asuransi karena kesadaran, bukan sekadar karena promosi semata.

Baca Juga: Tumbler Hilang, Karier Ikut Hilang: Fakta Lengkap Pemecatan Anita Dewi yang Viral

Riset Menjadi Fondasi Strategi Bisnis Asuransi

Hexana menegaskan bahwa riset akademik yang dilakukan secara sistematis memungkinkan industri asuransi merumuskan strategi bisnis berbasis bukti yang benar-benar menyentuh kebutuhan publik.

Riset membantu perusahaan asuransi dalam banyak hal, seperti:

• Penilaian risiko – Memetakan peluang terjadinya risiko seperti kecelakaan, penyakit, maupun bencana.

• Perhitungan premi – Menentukan nilai premi yang adil, kompetitif, dan sesuai risiko.

• Pengembangan produk – Mengidentifikasi kebutuhan masyarakat yang belum terlayani dan menciptakan produk yang tepat sasaran.

• Manajemen risiko & klaim – Meminimalkan sengketa klaim dengan penyusunan polis berdasarkan prinsip kehati-hatian.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Ken Maesa Pamenang

Sumber: Ifg

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X