Baca Juga: Raja Solo Sinuhun Pakubuwono XIII Wafat, Keraton Surakarta Berduka
Aturan Ketat Ziarah ke Makam Imogiri
Makam Imogiri dikenal sakral dan memiliki aturan ketat bagi para peziarah. Tidak sembarang orang dapat masuk ke area makam utama, apalagi ke kompleks Astana Sultan Agung.
Para peziarah wajib mengenakan pakaian adat Jawa. Pria harus memakai blangkon, beskap, kain jarit, dan sabuk, sementara wanita mengenakan kemben dan kain panjang.
Bahkan, bagi peziarah berhijab, diwajibkan melepas hijab ketika masuk ke area utama makam sebagai bentuk penghormatan pada adat setempat.
Selain itu, pengunjung dilarang memakai alas kaki, membawa kamera, atau mengenakan perhiasan emas. Tindakan tidak sopan seperti berisik, berburu, atau merusak tanaman di sekitar area juga dilarang keras.
Waktu kunjungan pun terbatas, yaitu Sabtu–Kamis pukul 10.00–13.00 WIB dan Jumat pukul 13.00–16.00 WIB. Pada bulan Ramadan, kompleks makam ditutup penuh dan dibuka kembali pada 1 Syawal.
Baca Juga: Sama-sama Kerajaan Mataram, Mengapa Batik Solo Beda dengan Yogyakarta? Ini Sejarahnya
Tradisi Sakral yang Masih Lestari
Hingga kini, Makam Raja-Raja Imogiri masih menjadi pusat berbagai tradisi sakral Jawa. Dua di antaranya adalah kuthomoro dan nguras enceh.
Kuthomoro adalah tradisi tahunan pada bulan Ruwah, di mana pihak keraton mengirim doa bagi para leluhur yang dimakamkan di Imogiri.
Sementara nguras enceh dilakukan setiap Jumat Kliwon di bulan Sura, usai ritual jamasan pusaka (pembersihan benda pusaka) di Keraton Yogyakarta.
Struktur dan Fasilitas Makam
Kompleks Makam Imogiri dibagi menjadi tiga wilayah besar, mencerminkan perjanjian Giyanti (1755) yang membagi Kerajaan Mataram menjadi dua: Kasultanan Yogyakarta dan Kasunanan Surakarta.
Bagian barat merupakan makam raja-raja Kasunanan Surakarta, bagian timur untuk makam raja-raja Kasultanan Yogyakarta, dan bagian tengah khusus makam Sultan Agung dan keluarganya.
Artikel Terkait
Ken Dedes, Perempuan yang Menurunkan Raja-raja di Jawa?
Dendam Lama dan Tahta Singkat Amangkurat III
Paku Buwono VI, Raja Surakarta di Simpang Jalan
Keris Mpu Gandring, Ken Arok, dan Pertumpahan Darah di Kerajaan Singasari
Gayatri Rajapatni, Perempuan Agung di Balik Kejayaan Majapahit
Diponegoro, Pangeran yang Membuat Belanda Bangkrut