Dari Singkong Jadi Energi: Langkah Serius Indonesia Menuju Kemandirian Bioetanol

photo author
Leihana, TitikTemu.co
- Kamis, 30 Oktober 2025 | 21:58 WIB
 Pemerintah siapkan lahan untuk bangun pabrik etanol.  (Facebook.com/TheDistilleryPhuket)
Pemerintah siapkan lahan untuk bangun pabrik etanol. (Facebook.com/TheDistilleryPhuket)

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan bahwa program ini tidak hanya mendukung kebutuhan energi, tetapi juga akan memperkuat produksi gula nasional.

“Untuk konsumsi white sugar, kita optimistis bisa swasembada tahun ini atau paling lambat tahun depan,” ujarnya. Ia juga memperkirakan bahwa dalam 3–4 tahun ke depan, Indonesia bisa mencapai kemandirian baik untuk kebutuhan konsumsi maupun produksi etanol.

Baca Juga: Harga Emas Turun, Niat Beli Ikut Luntur: Antara Logam Mulia dan Logika Hati-Hati

Etanol: Energi Bersih yang Buka Banyak Pintu

Sementara itu, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menyoroti potensi besar bioetanol dalam mengurangi ketergantungan terhadap impor bensin. 

Dengan konsumsi nasional sekitar 42 juta ton bensin per tahun—dan separuhnya berasal dari impor—campuran etanol 10–20 persen (E10–E20) bisa jadi solusi nyata.

“Etanol bukan cuma menjaga pasokan energi, tapi juga membuka lapangan kerja dan menumbuhkan ekonomi daerah,” kata Bahlil dalam Sarasehan 100 Ekonom Indonesia di Jakarta.

Ia juga menepis anggapan bahwa campuran etanol bisa menurunkan kualitas bensin.

Justru sebaliknya—negara-negara besar seperti India, Amerika Serikat, dan Thailand telah lama menggunakan etanol dalam kadar tinggi tanpa masalah. “Kalau mereka bisa, kenapa kita tidak?” tandasnya.

Dari Tebu ke Tangki: Jalan Panjang Menuju Energi Mandiri

Langkah ini mungkin belum langsung mengubah wajah energi Indonesia, tapi arah perjalanannya jelas.

Dengan memanfaatkan kekayaan alam sendiri—dari singkong, tebu, hingga jagung—Indonesia sedang membangun pondasi menuju kemandirian energi yang lebih bersih dan berkelanjutan.

Mungkin, di masa depan, setiap tetes bahan bakar yang kita gunakan bukan lagi hasil impor, tapi buah dari tanah sendiri—dan itu bukan sekadar mimpi, tapi visi yangsedang tumbuh di lahan-lahan kita hari ini.***

 

 

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Ken Maesa Pamenang

Sumber: Siaran Pers

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X