Menkeu Purbaya dan Luhut Tidak Saling Tegur Sapa Gara-gara Kereta Cepat Woosh?

photo author
Ken Maesa Pamenang, TitikTemu.co
- Selasa, 21 Oktober 2025 | 20:40 WIB
Menkeu Purbaya dan Luhut Tidak Saling Tegur Sapa Gara-gara Kereta Cepat Woosh? (Dok.KCIC)
Menkeu Purbaya dan Luhut Tidak Saling Tegur Sapa Gara-gara Kereta Cepat Woosh? (Dok.KCIC)

Dia menilai, Danantara sudah mendapatkan keuntungan besar dari dividen BUMN hingga mencapai Rp80 triliun, sehingga tidak adil jika beban utang proyek dibebankan lagi ke kas negara.

Menanggapi hal itu, Luhut Binsar Pandjaitan menegaskan bahwa tidak ada pihak yang meminta dana APBN untuk membayar utang proyek Whoosh. Menurutnya, masalah yang terjadi hanya seputar restrukturisasi utang.

“Whoosh itu tinggal restructuring saja. Siapa yang minta APBN? Tak ada yang pernah minta APBN,” tegas Luhut.

Baca Juga: Menkeu Purbaya Tegaskan Siap Pangkas Anggaran Makan Bergizi Gratis, Luhut: Serapan Sudah Membaik!

Pendirian Family Office

Selain proyek Whoosh, perbedaan pandangan antara Purbaya dan Luhut juga terlihat dalam wacana pembentukan family office di Indonesia.

Gagasan pembentukan family office ini sebenarnya merupakan inisiatif Luhut saat menjabat Menko Maritim dan Investasi di era Presiden Joko Widodo.

Konsepnya adalah menarik investasi keluarga-keluarga kaya dunia agar menanamkan modal di Indonesia dan mendorong pertumbuhan ekonomi hingga 8 persen.

Namun, Purbaya menegaskan Kemenkeu tidak akan menggunakan dana APBN untuk mendanai proyek tersebut.

“Kalau DEN bisa bangun sendiri, ya bangun saja sendiri. Saya anggarannya (APBN) nggak akan alihkan ke sana,” tegasnya.

Purbaya juga mengaku belum memahami secara rinci konsep family office yang dimaksud Luhut.

“Saya belum terlalu ngerti konsepnya. Walaupun Pak Ketua DEN sering bicara, saya belum pernah lihat seperti apa konsepnya,” ujar Purbaya.

Baca Juga: Drama Serius di Balik Istana: Purbaya Hampir Dihukum Push Up Gara-Gara Telat

Sementara itu, Luhut menilai pernyataan-pernyataan yang beredar justru membuat isu ini tampak seperti konflik pribadi, padahal tujuannya adalah mengembangkan sektor ekonomi non-APBN.

“Family office itu nggak ada urusan dengan APBN. Kita terus ramai, tengkar, ini apa lagi? Saya pikir enggak ada urusannya dengan APBN,” tegas Luhut.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Ken Maesa Pamenang

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X