Beberapa mahasiswa lain juga mengungkapkan TAS sudah beberapa kali mencoba melompat dari gedung, namun selalu berhasil dicegah teman-temannya.
Perilaku ersebut diduga merupakan bentuk depresi atau tekanan psikis berat yang dialami korban selama perkuliahan.
Baca Juga: Bukan Sekadar Relawan: Kesempatan Mahasiswa Jadi Pionir Edukasi Pajak Lewat Program Renjani 2026
Kampus Harus Peduli Kesehatan Mental
Kasus ini menjadi peringatan serius bagi dunia kampus di Indonesia. Banyak pihak unibersitas kerap tidak peduli terhadap isu kesehatan mental dan perundungan di lingkungan mahasiswa.
Warganet menyerukan agar Unud dan kampus lain di Indonesia membentuk layanan konseling psikologis untuk mahasiswa. Selain itu, budaya saling menghargai dan empati perlu ditanamkan sejak dini.
Perundungan verbal, ejekan, atau candaan yang merendahkan bukanlah hal sepele. Dalam banyak kasus, korban merasa tertekan dan kehilangan harga diri hingga akhirnya memilih jalan tragis seperti bunuh diri.***
Artikel Terkait
Prabowo Ingatkan Para Pemuda: Jangan Suka Bully Orang
Kisah Inspiratif Alief Fauzan, Mahasiswa ITB Merajut Koneksi Tanpa Batas
Cerita Ayah Rheza Mahasiswa Amikom: Ada Bekas Sepatu Aparat di Perut Anak Saya
Kasus Cium Kening Unsri 2025: Fakta Video Viral, Sanksi Mahasiswa, hingga Evaluasi Kampus
Anggaran Makan Bergizi Gratis Bisa Biayai Ratusan Ribu Mahasiswa Kuliah Gratis?