Sampai akhirnya, dua hari berselang, Kamis 6 Maret 2025, menjelang magrib, Alvaro pamit pergi ke masjid. Tugimin membiarkannya seperti biasa. Lalu waktu berjalan tanpa kepulangan.
Satu jam. Dua jam. Lima jam. Alvaro tidak juga muncul. Khawatir, Tugimin menghubungi Alex. Menantunya datang tergesa, sekitar pukul 22.00.
Mereka pun pergi ke Polsek Pesanggrahan untuk melaporkan hilangnya Alvaro. Namun, laporan kehilangan belum dapat dibuat karena belum 1x24 jam.
Selama hari-hari pertama pencarian, Alex seolah menjadi bagian dari keluarga yang berduka. Dia bahkan selalu hadir, membantu bertanya, ikut berkeliling melakukan pencarian.
“Prasangka saya baik aja, karena dia terus bantu. Sopan terus,” kata Tugimin.
Tidak ada sedikit pun kecurigaan, justru rasa percaya yang semakin besar. Keluarga tetap percaya Alex adalah pria yang baik, dan ayah yang menyayangi anak tirinya, Alvaro.
Baca Juga: Polisi: Ayah Tiri Alvaro Bunuh Diri di Ruang Konseling, Bukan di Sel Tahanan
Motif yang Terungkap
Dari informasi yang belakangan didapat keluarga, ternyata Alex kerap cemburu dan mencurigai Arumi yang bekerja di luar negeri.
Teleponnya sering tidak diangkat, dan Alex memiliki bayangan istrinya itu selingkuh di negeri seberang, Malaysia.
Ditambah lagi, permintaannya agar Arumi berhenti bekerja di luar negeri, dan kembali ke Indonesia untuk berkumpul sebagai satu keluarga utuh tidak dituruti.
Dendam mengendap. Dan tanpa diduga, Alex memilih sasaran yang paling tak berdaya: anak sambungnya sendiri.
Cara Keji Alex
Nenek Alvaro, Sayem (53), bercerita tentang informasi yang diterimanya dari polisi. Setelah menjemput Alvaro, Alex disebut kesal karena bocah itu terus memanggil nama kakeknya.
“Mungkin kesel. Terus dikekep pakai handuk. Katanya nggak sengaja,” tutur Sayem.