TITIKTEMU.CO - Fakta baru terus bermunculan dalam kasus meninggalnya dokter Eliza Princila Utami Pakaenoni atau dokter Icha yang diduga mengalami tekanan psikologis usai insiden dengan keluarga pasien di Timor Tengah Utara (TTU). Salah satu yang angkat bicara adalah dokter spesialis toksinologi ular berbisa, Tri Maharani, yang mengaku terlibat langsung sebagai konsultan medis dalam penanganan pasien tersebut.
Dokter Tri Maharani menegaskan bahwa dokter Icha telah menjalankan prosedur medis sesuai standar operasional (SOP). Menurutnya, keputusan untuk tidak memberikan antibisa sudah berdasarkan hasil konsultasi medis dan kondisi pasien.
Melalui akun Threads miliknya, dokter Tri menyampaikan belasungkawa sekaligus membela profesionalisme dokter Icha.
Baca Juga: Preview Pantai Gading vs Norwegia di Piala Dunia 2026: Duel Perdana, Erling Haaland Bidik Gol Kelima
"RIP dokter Icha, Anda sudah menjalankan tugas dengan baik. Kasus gigitan ular itu sudah dikonsulkan kepada saya dan memang tidak membutuhkan antibisa karena masih berada pada fase lokal," tulisnya.
Ia juga menegaskan seluruh arahan medis yang diberikan telah dijalankan dengan benar oleh dokter Icha.
Dokter Icha Berkali-kali Menelepon Minta Bantuan
Dalam keterangannya di kanal YouTube Kang Hadi Conscience, dokter Tri mengungkap bahwa pada 13 Juni 2026 sekitar pukul 17.51 WIB, dirinya menerima beberapa panggilan telepon dari dokter Icha saat sedang berada dalam perjalanan.
Menurutnya, dokter Icha menelepon hingga tiga sampai empat kali karena merasa berada dalam situasi yang sangat tertekan.
Dokter Tri menuturkan bahwa dokter Icha meminta bantuannya untuk memberikan penjelasan kepada keluarga pasien yang terus mendesak agar antibisa segera diberikan.
Baca Juga: Hajime Moriyasu Nilai Badai Cedera Jadi Pelajaran Berharga bagi Jepang di Piala Dunia 2026
"Dia mengatakan, 'Dokter Maha bisa bantu saya? Saya sedang dibentak-bentak dan dimarahi oleh keluarga yang membawa DPRD'," ungkap dokter Tri.
Sebelum panggilan tersebut, dokter Icha disebut telah lebih dulu berkonsultasi mengenai kondisi pasien yang merupakan pria berusia 20 tahun. Berdasarkan pemeriksaan fisik dan hasil laboratorium, dokter Tri menilai pasien belum memenuhi indikasi untuk mendapatkan antivenom.
Mengaku Ketakutan karena Diminta Identitas Lengkap
Artikel Terkait
Preview Prancis vs Swedia di Piala Dunia 2026: Jadwal, Prediksi Skor, dan Ketajaman Les Bleus Jadi Ancaman Besar
Gol Jonathan Tah Dianulir VAR, Jerman Merasa Dirugikan usai Tersingkir dari Paraguay di Piala Dunia 2026
Promedia Group dan Manava Collective Resmi Jalin Kerja Sama, Perkuat Program Pemberdayaan Masyarakat dan Pelatihan Vokasi
Bahlil Buka Suara soal Peluang Harga BBM Nonsubsidi Turun Juli 2026, Singgung Kenaikan Harga Minyak Dunia
Carlo Ancelotti Jadi Kunci Kebangkitan Brasil, Selecao Bangkit dari Tekanan dan Singkirkan Jepang di Piala Dunia 2026