Ayah ABH diketahui telah diperiksa pada 13 November 2025.
Pemeriksaan Motif dan Kondisi Psikologis
Penyidik terus menelusuri berbagai informasi untuk mengungkap motif serta kondisi psikologis ABH sebelum ledakan terjadi. Pemeriksaan juga berfokus pada dinamika keluarga dan situasi sekolah sebelum insiden.
Dalam proses ini, pihak SMAN 72 Jakarta memutuskan tetap melanjutkan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ). Dinas Pendidikan DKI Jakarta telah menetapkan PJJ sejak 10 November 2025 hingga gedung sekolah dinyatakan aman.
Selain evaluasi bangunan, pemantauan kondisi para siswa yang terdampak masih berlangsung.
Trauma Siswa dan Kebijakan Pembelajaran
Kepala Sekolah SMAN 72 Jakarta, Tetty Helena Tampubolon, menjelaskan bahwa sebagian siswa masih mengalami trauma, sehingga pembelajaran luring belum dapat diterapkan sepenuhnya.
“Hari Senin masih PJJ. Kita pantau bersama orang tua apakah memungkinkan beralih ke hybrid,” kata Tetty.
Menurutnya, asesmen psikologis tengah dilakukan oleh Dinas Pendidikan, Kemenkes, HIMPSI, dan Kemendikdasmen untuk menentukan kesiapan siswa kembali belajar di sekolah.
“Kelihatannya anak-anak sudah mulai rindu sekolah. Tapi hasil resmi asesmen belum keluar.”
Tetty berharap seluruh siswa yang menjadi korban dapat segera pulih.
“Harapannya tentu mereka cepat sembuh. Dengan pertolongan Tuhan, semoga anak-anak segera pulih,” tutupnya.***
Artikel Terkait
Polda Metro Jaya Periksa 46 Saksi Anak Terkait Ledakan di SMAN 72 Jakarta, Ungkap Fakta Baru Soal Kondisi Pelaku
MK Larang Polisi Aktif Duduki Jabatan Sipil: Putusan Berlaku Seketika, Pemerintah Diminta Segera Bertindak
211 Kasus Keracunan Makan Bergizi Gratis: BGN Ungkap Data, Pemerintah Diminta Perbaiki Tata Kelola
Pemerintah Ubah Kebijakan Pemusnahan Pakaian Impor Ilegal, Balpres Dicacah untuk Dimanfaatkan Ulang
Jejak Penuturan Sudirman Said yang Kini Relevan Lagi di Tengah Penyidikan Kasus Korupsi Petral