historia

Java Preanger, Secangkir Kopi dari Jawa yang Mendunia  

Senin, 4 Oktober 2021 | 08:00 WIB
Ilustrasi kopi Java Preanger. (Pixabay)

Dalam kontes kopi di Atlanta, kopi Gunung Puntang laku USD56 atau Rp759 ribu per kilogram.

Kopi Gunung puntang ditanam di beberapa wilayah selatan Bandung, seperti Kecamatan Cimaung, Banjaran, dan Pangalengan, Kabupaten Bandung.

Baca Juga: Merancang Wisata Kopi di Lereng Gunung Lawu Wonogiri

Kopi Gunung Puntang merupakan varietas tunggal Tipika. Masyarakat di sekitar tempat tumbuhnya kopi ini menyebutnya Sunda Tipika.

Di sekitar tanaman kopi di Gunung Puntang banyak ditanam pinus dan pisang. Tidak heran jika citarasa kopi Puntang cenderung manis.

Secara umum, kopi Gunung Puntang memiliki karakter tingkat keasaman yang tinggi, kental, cenderung manis, serta terdapat sensasi rasa karamel dan serai.

Baca Juga: 7 Kopi Terbaik di Indonesia, yang Mana Favoritmu?

Mendunianya kopi Gunung Puntang kemudian disusul oleh kopi-kopi Java Preanger lainnya, seperti kopi Gunung Malabar, Gunung Cikuray.

Ada juga kopi Gunung Papandayan, Gunung Tilu, Gunung Patuha, Gunung Halu, dan kopi Gunung Manglayang yang kemudian menjadi deretan kopi terbaik Jawa Barat.

Booming-nya kopi-kopi Java Preanger ini seperti mengulang masa kejayaan VOC saat menanam kopi di Gunung Malabar pada 1696.

Pada masa itu, Belanda mendatangkan bibit kopi dari Yaman, kemudian membawanya ke Jawa melalui pelabuhan Malabar, India.

Hasil tanam paksa diekspor ke Eropa. Mereka terkesima dengan citarasa kopi ini, dan menyebut kopi Priangan ini dengan "A Cup of Java", secangkir kopi dari Jawa. ***

Halaman:

Tags

Terkini

Arti Mimpi Ular Kuning dan Putih Apa?

Selasa, 26 Agustus 2025 | 11:35 WIB