historia

Diponegoro, Pangeran yang  Membuat Belanda Bangkrut

Minggu, 19 September 2021 | 08:30 WIB
Lukisan Pangeran Diponegoro, cat minyak, Delsy Sjamsumar . (Wikipedia)

Di markasnya yang baru itulah Pangeran Diponegoro dilantik menjadi sultan pada 1826. Gelarnya Sultan Abdulhamid Herucokro Amirulmukminin Sayidin Panotogomo Kalifah Rasulallah Ing Tanah Jawi.

Baca Juga: Dendam Lama dan Tahta Singkat Amangkurat III

Kiai Mojo beralasan empat raja Jawa,  yaitu PB VI, HB V,  Mangkunegoro III, dan Paku Alam I dinilai tidak bisa berbuat banyak terhadap tekanan dan campur tangan Belanda.

Sejak itu, markas perang  terus berpindah. Tercatat setelah Dekso markas berpindah ke Plered -bekas ibu kota Kerajaan Mataram Islam, dan Gawok di wilayah Surakarta.

Dalam serbuan Belanda ke Gawok, Diponegoro sempat terluka parah sehingga harus bersembunyi di lereng Merapi.

Perang Diponegoro meletus salah satunya karena Belanda terlalu mencampuri urusan pemerintahan Kasultanan, termasuk pengangkatan raja dan patih.

Patok Tanah di Tegalrejo

Puncak kemarahan Diponegoro adalah pemasangan patok di tanah-tanah miliknya pada Juli 1825 atas atas perintah Gubernur Jenderal Van der Capellen.

Bukan hanya karena tanah-tanah itu sebagai lahan pertanian, tapi juga karena sebagian besar leluhurnya dimakamkan di sana.

Patok-patok yang dipasang Residen Yogyakarta Anthonie Henrik Smissaert membuat hubungan Pangeran Diponegoro, Kasultanan Yogyakarta, dan Belanda semakin panas.

Sejarawan Inggris Peter Carey dalam buku “Kuasa Ramalan: Pangeran Diponegoro dan Akhir Tatanan Lama di Jawa, 1785-1855” (hlm. 704) menulis pematokan tanah untuk jalan raya yang tanpa pemberitahuan itu menjadi penyebab perang besar.

Jauh sebelumnya, konflik dalam keraton sudah muncul. Sang Patih, Danureja IV, sengaja tidak memberitahu Diponegoro soal rencana pembuatan jalan.

Dengan sembunyi-sembuyi, Patih Danurejo memerintahkan bawahannya untuk memasang patok-patok. Ia tahu, Diponegoro akan menghalangi sepak terjangnya.

Kerusuhan-kerusuhan kecil antara petani dengan para pemasang patok terjadi. Petani, pedagang, ulama, penduduk setempat pun mulai menjadi pengikut Diponegoro.

“Mereka datang untuk membela Pangeran Diponegoro atas tindakan Belanda dan Danureja. Mereka kemudian mendirikan markas di Tegalrejo. Itulah bibit Perang Jawa,” kata Carey.

Halaman:

Tags

Terkini

Arti Mimpi Ular Kuning dan Putih Apa?

Selasa, 26 Agustus 2025 | 11:35 WIB