Dampak kebijakan Daendels signifikan: selama masa pemerintahannya, pembalakan liar mereda drastis dan sebagian hutan di Pulau Jawa mulai pulih.
Banjir Kritik, Daendels Tetap Keras
Kebijakannya berhasil memulihkan kondisi hutan, tapi tidak semua pihak senang. Para pengusaha kayu mengeluhkan kebijakan itu menurunkan produksi kapal dan rumah berbahan jati.
Harga bahan bangunan melonjak karena pasokan yang menipis dan kontrol pemerintah terlalu yang ketat.
Thomas Stamford Raffles dalam The History of Java mencatat biaya pembangunan desa meningkat sepuluh kali lipat. Sementara masyarakat yang bergantung pada perdagangan kayu pekerjaan.
Namun Daendels tidak bergeming. Baginya, menjaga kelestarian hutan lebih penting daripada kepentingan segelintir pengusaha.
Sikap kerasnya, seperti dalam banyak kebijakan lain, membuatnya semakin dikenal sebagai pemimpin berkarakter kuat.
Sejarah mencatat bahwa meski masa jabatannya hanya tiga tahun, Daendels berhasil meninggalkan tonggak reformasi penting dalam tata kelola hutan dan administrasi pemerintahan.
Baca Juga: Mengenal Empat Raja Jawa: Ini Beda Hamengku Buwono, Paku Alam, Paku Buwono, dan Mangkunegara
Warisan Daendels bagi Pengelolaan Hutan
Langkah Daendels menjadi salah satu titik awal kesadaran pemerintah kolonial terhadap pentingnya manajemen hutan yang berkelanjutan.
Sistem kodifikasi kayu, pemetaan hutan, hingga pendirian Jawatan Kehutanan menjadi fondasi pengelolaan hutan modern di Jawa pada era berikutnya.
Meskipun kebijakannya menuai kritik dan tidak sempurna, reformasi yang dia lakukan menunjukkan keberanian mengambil keputusan tidak populer demi kepentingan jangka panjang lingkungan.
Daendels mungkin dikenal sebagai ‘Mas Galak’. Namun, warisannya dalam menata kembali hutan Jawa memiliki dampak besar bagi masa depan pengelolaan sumber daya alam di Nusantara.***