9 Masjid Yang Punya Sejarah Di Kota Solo.

photo author
AB Soleh, TitikTemu.co
- Jumat, 11 Agustus 2023 | 11:00 WIB
Salah satu masjid bersejarah di Solo (Pemkot Surakarta)
Salah satu masjid bersejarah di Solo (Pemkot Surakarta)

Masjid Al Wustho yang berada di sisi barat Puro Mangkunegaran, merupakan bagian dari Puro Mangkunegaran. Lokasinya yang berada di Jalan Kartini, Ketelan, Banjarsari, Solo ini bangunannya terlihat sangat menonjol. Jika diperhatikan, tembok masjidnya sangat tebal dan terdapat kaligrafi yang menghiasinya. Kaligrafi ini menjadi salah satu ciri khas yang mudah dikenali setiap pengunjung. 

Keberadaan masjid bagi Puro Mangkunegaran memiliki arti penting, sebab bisa diartikan sebagai simbol perhatian raja kepada umat karena terkait dengan gelar panotogomo (penata agama). 

Masjid Al Wustho Mangkunegaran dibangun atas prakarsa KGPAA Mangkunegara I (1725-1795). Saat awal didirikan, masjid tersebut bernama Masjid Mangkunegaran yang berada di kawasan Kauman. Pada masa KGPAA Mangkunegara II (1796-1835), dipindahakan ke lokasi dekat Puro Mangkunegaran, yang kemudian pengelolaannya dilakukan oleh para abdi dalem. 

Baca Juga: Ini Cerita Masjid Syuhada Yogyakarta

Masjid Al Wustho masih mempertahankan keasliannya, baik tembok, mimbar, menara, gapura (markis) dan bedug. Gapuranya yang dihiasi kaligrafi menjadi bagian yang sangat indah dan menjadi ciri khas Masjid Al Wustho.  

Langgar Merdeka

Di kawasan Laweyan, masih ada satu lagi masjid atau tempat ibadah umat Islam yang mempunyai andil dalam perkembangan syiar Islam di Solo, khususnya di Laweyan, yaitu Langgar Merdeka. Bangunan yang berada di pinggir Jalan DR Radjiman, Laweyan ini memiliki kisah yang menarik. Karena lokasinya yang berada di pinggir jalan, maka banyak dimanfaatkan warga yang lewat untuk menunaikan ibadah salat lima waktu. 

Kondisi Langgar Merdeka sangat terawat, tertera pada bagian atas di dinding depan, tertulis angka 7-7-1877. Tulisan itu diperkirakan sebagai tanggal berdirinya bangunan itu yaiti pada 7 Juli 1887. Sebelum digunakan sebagai tempat ibadah atau langgar, dahulu merupakan toko milik warga beretnis Tionghoa yang menjual ganja untuk bahan pengobatan. 

Pada perkembangannya, H Imam Mashadi (almarhum), membeli toko tersebut pada tahun 1940-an, yang akhirnya memugarnya menjadi langgar sebagai tempat ibadah pada tahun 1942. Nama Langgar Merdeka adalah pemberian dari Presiden 1 RI, Ir Soekarno. Bangunan Langgar Merdeka merupakan tanah wakaf seluas 179 m2. 

Langgar Merdeka diresmikan oleh Menteri Sosial, Mulyadi Joyo Martono. Nama Langgar Merdeka digunakan untuk memperingati kemerdekaan RI. Tetapi saat agresi militer ke-2 Belanda tahun 1949, namanya diganti Langgar Al Ikhlas, karena Belanda melarang menggunakan kata Merdeka. Setelah agresi militer ke-2 usai, langgar tersebut kembali menggunakan nama Langgar Merdeka. Kedua nama itu masih tertulis pada bangunan tersebut. Sisi bangunan yang menghadap Jalan DR Radjiman tertulis Langgar Merdeka, sementara yang menghadap Jalan Tiga Negeri tertulis Langgar Al Ikhlas. Bangunan ini sudah ditetapkan sebagai bangunan cagar budaya. 

Masjid Darussalam

Masjid Darussalam merupakan bangunan tua yang dibangun sekitar tahun 1900-an oleh para perantau masyarakat Banjar yang tinggal di Solo. Masjid yang berada di Jalan Gatot Subroto, Jayengan, Serengan ini memiliki gaya arsitektur yang unik, yaitu perpaduan Jawa dan Sumatera. 

Dahulu masjid tersebut didirikan oleh masyarakat Banjar yang sebagian besar berprofesi sebagai pedagang emas dan berlian. Ada tradisi unik saat bulan Ramadan, yaitu pembuatan bubur Samin atau bubur Banjar. 

Saat ini, Masjid Darussalam menjadi bagian wisata religi yang sering dikunjungi oleh warga dari berbagai daerah. Warga Banjar yang sekarang banyak menetap di Kampung Jayengan, Solo ini masih mempertahankan pembuatan dan pembagian bubur Samin. Mereka sering memasak hingga ribuan porsi untuk dibagikan ke masyarakat dan jamaah masjid untuk menu berbuka puasa. Rasanya yang enak dan gurih, membuat warga sekitar banyak yang menanti untuk mendapatkan bubur Samin, yang dibuat warga Banjar yang sudah menetap di Jayengan.  

Masjid Sholihin

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: AB Soleh

Sumber: Pemkot Surakarta

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Arti Mimpi Ular Kuning dan Putih Apa?

Selasa, 26 Agustus 2025 | 11:35 WIB
X