TITIKTEMU.CO-Pernah buka aplikasi dompet digital, bayar Rp20 ribu, lalu beberapa menit kemudian bayar lagi Rp35 ribu—dan semuanya terasa seperti bukan pengeluaran sungguhan?
Inilah yang membuat dompet digital menarik sekaligus sedikit berbahaya bagi pengguna aktif: uang berpindah, tetapi sensasi “kehilangan uang” sering kali tidak ikut terasa.
Fenomena ini berkaitan dengan konsep psikologi pain of paying, yaitu rasa tidak nyaman ketika seseorang sadar bahwa uangnya berkurang.
Sejumlah penelitian menemukan bahwa pembayaran elektronik cenderung menimbulkan rasa sakit membayar yang lebih rendah dibandingkan uang tunai.
Baca Juga: Middle Income Trap Keluarga: Kenapa Milenial Kelas Menengah Makin Susah Bernapas?
Dompet Digital Menghilangkan “Rasa Sakit” Saat Bayar
Coba bandingkan dua situasi. Saat membayar makan Rp50 ribu dengan uang tunai, kita melihat selembar uang keluar dari dompet. Ada momen kecil ketika otak menyadari, “Oke, uang saya berkurang Rp50 ribu.”
Sekarang bayangkan transaksi yang sama menggunakan dompet digital. Scan QR, masukkan PIN, muncul tulisan berhasil, selesai. Tidak ada uang fisik yang berpindah tangan dan prosesnya hanya berlangsung beberapa detik.
Penelitian tentang cashless effect menunjukkan bahwa metode pembayaran non-tunai dapat berkaitan dengan pengeluaran yang lebih tinggi, meskipun efeknya tidak selalu sama pada setiap situasi. Meta-analisis terhadap 392 ukuran efek dari 71 penelitian menemukan adanya efek cashless yang kecil tetapi signifikan.
Baca Juga: Kenapa Anak-anak Nggak Perlu Tinggal di Kota Besar untuk Sukses — Tren 2026 Membuktikan
Kenapa Gen Z Bisa Lebih Mudah Terjebak?
Bagi Gen Z yang sejak muda terbiasa dengan smartphone, transaksi digital bukan sesuatu yang terasa “spesial”. Bayar makanan, ongkos, belanja online, langganan aplikasi, sampai patungan dengan teman bisa dilakukan dari perangkat yang sama.
Masalahnya muncul ketika kemudahan tersebut membuat transaksi kecil terasa tidak penting. Rp15 ribu untuk minuman, Rp25 ribu untuk ongkir, lalu Rp30 ribu untuk camilan memang terlihat kecil jika dilihat satu per satu. Tetapi ketika dikumpulkan selama sebulan, ceritanya bisa berubah drastis.
Studi kualitatif yang terbit pada 2026 terhadap pengguna pembayaran digital muda juga menemukan pengalaman seperti “uang terasa tidak nyata”, jebakan pengeluaran kecil, dan berkurangnya kesadaran terhadap biaya sebagai tema yang muncul dalam penggunaan pembayaran cashless.
Bukan Cuma Karena Uang Terasa Virtual
Ada hal lain yang membuat dompet digital terasa begitu “ringan”: proses membayarnya memang menyenangkan dan praktis.
Artikel Terkait
Tren Anti-Tren 2026: Kenapa Perabot Rotan dan Kayu Jati Lokal Kembali Merajai Rumah Modern?
Pindah ke Kota Kecil Bukan Kalah — Tren 'Slow Living Migration' yang Diam-Diam Mengubah Peta Urban Indonesia
Slow Living Bukan Tren Bule — Ini Alasan Gen Z Indonesia Mulai Memilih Hidup Lebih Pelan
Tren Self Expression 2026: Dari Fashion Kenapa Anak Muda Indonesia Rela Potong Anggaran Makan demi Tetap Tampil Kece di Medsos?
Tren Plant-Based di Indonesia: Antara Gaya Hidup Tulus dan Flexing Doang
Kenapa Anak-anak Nggak Perlu Tinggal di Kota Besar untuk Sukses — Tren 2026 Membuktikan
Slow Living Bukan Tren — Ini Kota yang Sudah Lama Menjalaninya