Middle Income Trap Keluarga: Kenapa Milenial Kelas Menengah Makin Susah Bernapas?

photo author
Leihana, TitikTemu.co
- Sabtu, 29 Agustus 2026 | 18:38 WIB
Ilustrasi Middle Income Trap Keluarga: Kenapa Milenial Kelas Menengah Makin Susah Bernapas?
Ilustrasi Middle Income Trap Keluarga: Kenapa Milenial Kelas Menengah Makin Susah Bernapas?

TITIKTEMU.CO-Punya pekerjaan tetap, rumah tangga berjalan, tetapi setiap akhir bulan tetap merasa uang menguap begitu saja.

Middle Income Trap Keluarga menggambarkan situasi ketika pendapatan sudah berada di level menengah, tetapi kenaikan biaya hidup membuat keluarga sulit benar-benar naik kelas secara finansial.

Fenomena ini terasa dekat dengan kehidupan banyak keluarga milenial.

Gaji mungkin lebih tinggi dibanding saat baru bekerja, tetapi kebutuhan juga ikut tumbuh: cicilan rumah, kendaraan, biaya sekolah anak, kesehatan, kebutuhan orang tua, hingga tabungan masa depan.

Baca Juga: Ekspor Batu Bara, Sawit, dan Ferroalloy Bakal Kena Fee? Ini Penjelasan DSI

Middle Income Trap Keluarga dan Tekanan Biaya Hidup

Istilah middle income trap sebenarnya lebih sering digunakan dalam konteks ekonomi negara. Namun, konsep serupa bisa dipakai untuk melihat kondisi rumah tangga secara sederhana: pendapatan naik, tetapi kemampuan membangun kekayaan tidak ikut melompat.

BPS mencatat kelompok kelas menengah dan masyarakat yang menuju kelas menengah mencapai 66,35 persen populasi Indonesia pada 2024. Kelompok tersebut juga menyumbang 81,49 persen konsumsi masyarakat.

Artinya, kelas menengah punya posisi penting dalam ekonomi. Masalahnya, ketika daya beli tertekan, dampaknya tidak hanya terasa di rekening keluarga, tetapi juga bisa merembet ke konsumsi nasional.

Baca Juga: Kenapa Anak-anak Nggak Perlu Tinggal di Kota Besar untuk Sukses — Tren 2026 Membuktikan

Kenapa Milenial Paling Terasa Terjepit?

Milenial berada di fase kehidupan yang penuh kebutuhan bersamaan. Mereka bukan lagi sekadar membayar makan dan transportasi, tetapi mulai memikirkan rumah, anak, pendidikan, investasi, sekaligus persiapan pensiun.

Di sinilah muncul fenomena yang agak menyebalkan: pendapatan bertambah, tetapi pengeluaran seperti ikut mengejar dari belakang.

Keluarga dengan dua penghasilan pun belum tentu merasa longgar. Ketika biaya tempat tinggal, pendidikan, transportasi, makanan, dan kebutuhan digital terus mengisi pos anggaran, ruang untuk menabung atau berinvestasi bisa semakin sempit.

Baca Juga: Sinopsis dan Daftar Pemeran Reacher Season 4, Ada Agnez Mo dan Anggun C. Sasmi

Data BPS dalam publikasi Neraca Rumah Tangga Indonesia 2022–2024 juga menunjukkan bahwa aktivitas ekonomi rumah tangga perlu dilihat tidak hanya dari pendapatan, tetapi bersama konsumsi dan investasi.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Leihana

Sumber: Berbagai sumber

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X